Sekarang aku sudah berumur delapan belas tahun. Secara hukum, aku sudah boleh mengatur hidupku sendiri. Namun bukan itu yang aku impikan sejak dulu. Menurut peraturan di keluarga kami, ketika seseorang sudah berumur delapan belas tahun maka itulah saatnya dia melakukan pekerjaan yang selama ini menjadi usaha keluarga kami. Pekerjaan yang tidak semua orang mau, apalagi seorang wanita. Pekerjaan yang bahkan dilarang dan dibenci oleh masyarakat. Pekerjaan yang selama ini hanya menjadi bayang-bayang dalam pikiran akal sehat manusia(“Apa benar ada pekerjaan seperti itu?”). Pekerjaan yang hanya dapat orang temui di cerita-cerita novel detektif atau film-film action. Pekerjaan yang selalu aku impikan.
Bagi sebagian orang, membunuh adalah perbuatan keji yang dikutuk oleh semua umat namun pekerjaan inilah yang digerakkan oleh ayahku. Sejak aku mulai bisa mengingat sesuatu, aku selalu tertarik dan diam-diam mempelajari teknik-teknik bela diri yang diajarkan ayah pada para anak buahnya. Ayah memang kemudian membekaliku dengan ilmu bela diri dan membaca situasi namun beliau tidak pernah mengijinkanku melakukan pekerjaan utama kelompok yang dikuasai ayah. Orang-orang biasa menjuluki kami mafia. Sejak berumur empat belas tahun aku sudah diajak memata-matai target operasi namun aku hanya bisa menyaksikan para eksekutor menyiksa bahkan membunuh korbannya.
Ayah tidak sembarangan menerima permintaan pembunuhan tanpa diberitahu sebab-sebab dan latar belakang korbannya. Kami biasanya membunuh para orang-orang jahat meskipun aku akui perbuatan kami pun sesungguhnya merupakan suatu kejahatan. Meskipun pekerjaan membunuh merupakan pekerjaan utama kami dan mendapat bayaran tertinggi, namun jumlah korban kami tak sampai sepuluh orang tiap tahunnya. Ayah lebih memilih menyiksa para target untuk mau buka mulut atau tutup mulut sesuai perintah klien.
Aku tahu bayaran dari pekerjaan papa dan anak-anak buahnya pasti sangat tinggi, ditambah dengan bisnis ilegal yang ayah geluti sejak beberapa tahun terakhir yaitu membuka rumah hiburan dan menyediakan para pelacur serta menyewakan anak buah untuk menjadi bodyguard. Seakan tak mau menunjukkan kekayaannya, ayah tak membangun mewah-mewah rumah tempat tinggal kami yang masih kalah dengan gedung diskotik milik ayah yang dua kali lebih luas daripada rumah kami. meskipun rumah kami terlihat kecil dan tak menyolok namun keamanan dalam rumah sangat ketat. Tidak ada satpam karena memang rumah kami tak berpagar namun sebenarnya di dalam suatu ruang tersembunyi di bawah tanah, pengawasan selama 24 jam penuh tak pernah lepas. meskipun kelihatannya pintu dan jendela kami terlihat biasa, namun Nano, anak buah papa yang sangat ahli di bidang teknologi, memanipulasinya dengan lapisan tipis yang sangat ampuh melindungi isi rumah dari benturan, lemparan batu maupun peluru senjata api. Ayah selalu merahasiakan letak rumah kami kepada siapapun. Hanya kami sendiri, aku, ayah dan ibu serta anak-anak buah ayah dan para perempuan pelacur di diskotik ayah yang akrab dengan kami. akses ke rumah kami dilakukan melalui lorng bawah tanah yang menghubungkan diskotik tempat usaha ayah serta tempat tinggal para anak buahnya dengan rumah kami. rumah kami berbelakangan dengan gedung diskotik dan rumah tinggal karyawan papa tersebut.
Tidak ada hal lain yang lebih aku inginkan daripada membunuh target yang disodorkan klien papa. Hari itu tepat pada ulang tahunku yang kedelapan belas, setelah paginya kami rayakan dengan kue ulang tahun kecil, siangnya papa menemui seorang klien di ruang kerjanya di lantai dua gedung diskotiknya. Suasana masih sepi karena para pelacur dan karyawan yang tinggal disana masih belum terbangun dari tidurnya setelah bekerja semalam suntuk. Ayah tidak pernah mengijinkanku beertatap muka dengan para kliennya, katanya berbahaya. Larangan yang sama juga ditujukan pada ibuku. Maka siang itu aku mengintip dari langit-langit ruang kerja ayah setelah susah payah mengendap-endap dan berhati-hati agar tak menimpa langit-langit yang pasti tak akan mampu menahan berat tubuhku. Well, sebenarnya aku tidak terlalu bersusah payah karena aku sudah terbiasa melakukan adegan berbahaya dan mendebarkan seperti ini. Mustahil aku mencoba menguping percakapan mereka dengan menempelkan kupingku lekat-lekat di pintu masuk karena selalu ada dua penjaga yang berdiri di depannya. Ayah selalu memerintahkan mereka untuk menjauhkan siapapun dari puntu itu ketika sedang ada klien.
Melalui celah lubang udara, aku mengintip siapa saja yang berada di ruangan itu selain ayahku. Seperti biasa Fandi dan Garna, dua orang kepercayaan ayah, mendampingi ayah di sana, yang mereka lakukan hanya berdiri mematung di samping kiri kanan sofa ayah. Empat orang asing lain pasti seorang klien dengan para pengawalnya. Pria yang tidak diragukan lagi adalah orang yang berkepentingan itu berpenampilan necis dengan setelan jas biru tua serta sepatu fantovel lancip yang mengkilap. Rambutnya yang mulai beruban disisir rapi dengan belahan samping dan selalu kelihatan licin, kutu pun pasti terpeleset kalau berjalan di atas rambutnya. Badan lelaki tua itu sangat tambun, wajahnya kemerahan dan kacamata bulatnya mengingatkanku pada sosok Sinterklas. Seorang lainnya duduk berdampingan di sisi bos besar itu dan dua lainnya berdiri berjajar dengan Fandi dan Garna.
“Saya ingin nyawa orang ini dihabisi,” ucap klien gemuk ayah itu dengan geram setelah menyodorkan selembar foto yang lalu dilihat sekilas oleh ayah.
“Tunggu dulu, saya tidak bisa serta-merta memenuhi permintaan Anda. Anda tahu prosedurnya kan?” jawab ayahku masih dengan pembawaannya yang tenang.
“Anak ini telah menodai putriku satu-satunya. Pria ingusan ini memperkosa anak kesayanganku. aku tidak terbiasa berbuat jahat namun kali ini kulanggar semua prinsipku karena aku tak mau membiarkan orang yang telah menyakiti anakku hidup dengan tenang!” tutur si Klien Gemuk menggebu-gebu.
“Memperkosa?” tanya ayah sekali lagi.
“Benar. Anakku kini hamil tiga bulan. Aku sudah melarangnya pergi ke sekolah lagi karena perutnya telah membuncit. Aku lebih baik menghabisi nyawa bapak dari janin itu daripada membunuh jabang cucuku.”
“Anda yakin? Saya tidak ingin lain kali Anda datang ke sini dengan penyesalan,” tanya ayahku sekali lagi.
“Sangat yakin,” tegas si Klien Tambun disusul anak buah di samping nya yang langsung mengangkat kopernya ke tengah meja lalu membuka isinya. Tumpukan uang dalam mata uang Euro tersusun rapi dan memenuhi koper.
“Jumlahnya lebih dari harga yang biasa Anda tawarkan. Saya ingin pekerjaan ini berlangsung dengan cepat,” desak si Klien Tambun.
“Saya tidak bisa mempercepat pekerjaan ini dengan alasan apapun. Seperti biasa, satu bulan untuk pengamatan. Hari terakhir adalah pengeksekusian. Saya hanya akan menerima jumlah yang biasa saya tawarkan. Sisanya silahkan Anda bawa pulang,” tegas ayah yang tidak mau diganggu gugat. Aku salut dengan ketegasan ayah yang tidak mau mempercepat pekerjaannya walupun diiming-imingi uang yang sangat banyak. Yang pasti bisa membawa kami berlibur keliling Eropa selama berbulan-bulan.
“Baiklah. Saya bisa menunggu satu bulan. Tidak usah merisaukan tentang sisa uang itu. ambil saja sebagai tanda pertemanan saya,” si Klien Tambun berdiri untuk meminta pamit.
“Pasti Anda keliru jika ingin berteman dengan seorang pembunuh. Hahahaha,” tawa ayah disertai dengan tawa susulan si Klien Tambun.
“Turunlah Dara! Kau pikir aku tak tahu sudah berapa lama kau mengintip dari atas sana?” seru ayah tiba-tiba yang mengagetkanku setelah si Klien Tambun keluar dari ruang kerja ayah. Fandi dan Garna terkekeh.
“Kok ayah tahu sih?” tanyaku sambil masih shock.
“Kau ini penjahat cilik! Kau pikir siapa yang mengajarkanmu teknik mata-mata? Cepat turun! Kau harus dihukum karena ini.”
“Iya, iya. Bentar!” sungutku sambil membungkuk-bungkuk menyusuri terowongan lubang yang menghubungkan antar ruangan di gedung ini.
Begitu aku meloncat turun dari lubang udara di kamar Tania yang sudah kulepas penutupnya sejak keberangkatanku tadi, Tania sudah menyambutku. Dia belum mandi dan berdandan, kelihatannya dia tidak sanggup melakukan semua itu sebelum sempat mengetahui keadaanku selesai mematai-matai ayah.
“Bagaimana? Aku mendengar kamu tadi teriak-teriak. Apa kamu ketahuan?” tanya Tania dengan tidak sabar.
“Gitu deh. Tapi kali ini ayah agak melunak,” jawabku sambil menyeka debu yang menempel di bajuku, “Mungkin akhirnya ayah mau ngajakin aku melaksanakan misinya, hihihi!”
“Dara, aku nggak bisa bayangin kalau kamu membunuh orang…” desah Tania takut-takut.
“Memang itu yang aku inginkan. Sudahlah, lagipula nggak sembarang orang yang kami bunuh. Semuanya orang jahat,” hiburku.
“Tetap saja, membunuh―maksudku, membunuh juga nggak pernah dibenarkan.”
“Melacur juga nggak dibenarkan,” sahutku sambil berlalu dari kamar Tania.
Thursday, March 11, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

is that your real life??? wow
ReplyDeletelanjutin donk!
ReplyDelete