Tuesday, March 16, 2010

The Guardian part 3

Selain terkenal karena rumpun mawar yang terdapat hampir di segala sudut kota, Rightstone juga populer dengan aneka restoran dari mancanegaranya. Mulai dari restoran Jepang, China, India, Arab, Italia, Perancis sampai Belanda semua ada. Hal itu dikarenakan penduduk Rightstone yang beraneka ragam datang dari luar negeri. Kota Rightstone merupakan bagian dari provinsi Jogjakarta yang merupakan daerah Istimewa di Indonesia. Wilayah ini masih mempertahankan sistem pemerintahan monarki dengan seorang raja yang mengepalai provinsi ini. Kebudayaan daerah yang masih dipertahankan selalu menarik minat pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Kebanyakan mereka yang merasa senang dan betah dengan daerah ini memilih menetap, terhitung wilayah yang paling banyak dihuni para warga asing maupun keturunan adalah Rightstone. Apalagi provinsi itu telah dikenal sebagai kota pelajar dengan sekolah dan universitas unggulan sehingga banyak pula pelajar dari luar negeri memilih menuntut ilmu di sana.
Restoran yang Viktor dan Mia masuki itu benar-benar kental akan unsur Jepang. Tiap-tiap meja diberi pembatas dinding kertas ala rumah tradisional Jepang. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan alam jepang. Dekat pintu masuk restoran terdapat replika pohon sakura yang kelihatan sangat nyata. Meja makan pun didesain lesehan dengan meja kotatsu lengkap dengan futon yang hanya dipasang saat cuaca dingin seperti sekarang.
“Kok lo bisa kenal sama Paman Bima darimana?” tanya Mia membuka percakapan sambil menunggu pesanan dihidangkan.
Viktor pun dengan jujur menceritakan awal mula perkenalannya dengan Paman Bima dua bulan lalu. Waktu itu Viktor merasa jenuh berlatih ilmu di taman puri. Ia pun memutuskan untuk terbang, mencari-cari tempat lain yang tepat baginya untuk berlatih ilmu tanpa sepengetahuan orang lain. Akhirnya ia menemukan hutan Rossevolt sebagai tempat yang cocok untuknya berlatih ilmu. Selama hampir satu bulan ia berlatih ilmu terbang dan bela diri di tengah hutan Rossevolt tanpa intervensi dari siapapun sampai akhirnya ia kepergok oleh seorang polisi hutan yang tak lain adalah Paman Bima. Sebenarnya tidak seketika aksi Viktor ketahuan oleh Paman Bima. Jauh sejak kemunculan pertama Viktor di hutan itu, Paman Bima sudah mengetahuinya. Ia sengaja tidak menghampiri Viktor. ia menunggu saat yang tepat. Saat itu, Viktor dengan menakjubkan berhasil menguasai ilmu mengendalikan angin sehingga dapat merobohkan sebuah pohon mahoni yang besar. Antara kagum dengan kehebatan Viktor dan jengkel karena ulahnya merusak hutan, Paman Bima pun menghampirinya.
Tentu saja Viktor tidak bisa mengelak atas perbuatannya. Seolah pemandangan Viktor yang mencabut pohon mahoni besar sampai akar-akarnya tanpa sentuhan tangan itu bukan sesuatu hal yang luar biasa dan pantas dikomentari, Paman Bima menghardiknya.
Viktor masih ingat dengan jelas kalimat yang dilontarkan Paman Bima saat itu.
“Kalau semua pemilik kekuatan hebat menghancurkan hutan untuk memperdalam ilmunya, pasti Tuhan telah salah memilih menganugerahkannya kepada manusia-manusia sepertimu. Padahal setahuku Tuhan tak pernah salah.”
Merasa malu, Viktor tidak segera menyahut.
“Kau bukan orang berkekuatan aneh pertama yang aku lihat,” tambah Paman Bima.
Sejak itu Viktor dan Paman Bima berteman dekat. Bahkan orang tua itu merekomendasikan suatu tempat tersembunyi di hutan seluas kurang lebih sepuluh ribu kilometer persegi itu. Dijamin tidak akan ada seorang pun yang akan melintasi tempat itu selain Paman Bima sendiri dan Viktor. Semak Mawar Rahasia, demikian Viktor menamakan tempat itu, terletak di tepi hutan yang berbatasan langsung dengan samudera Hindia. Tebing terjal yang menghubungkan hutan dengan air laut itu membuat kawasan itu jarang dilalui siapapun. Tidak ada yang menarik dari tempat seluas lapangan bola itu. Hanya beberapa batang pohon beringin tumbuh rapat dan tidak beraturan mengelilingi tanah lapang itu. Semak mawar tumbuh liar sepanjang tepi tebing. Rumput gajah memenuhi tanah tempat Viktor biasa melatih kemampuannya sehingga tak menjadikannya coklat membosankan.
“Elo jangan cerita ke siapapun tentang Paman Bima dan tempat rahasia gue. Tanpa terkecuali,” tutur Viktor mengakhiri ceritanya.
“Oke,” jawab Mia singkat sambil menyeruput tehnya yang masih panas.
“Nggak pula ke Papa atau Mama!”
“Iya, ngerti.”
“Sebaiknya juga elo rahasiain tentang kalung baru elo itu.”
“Kenapa?”
“Paman Bima nggak pengen jati diri istrinya diketahui.”
(***)
Sambil menikmati secangkir kopi panas, Mia memandang taman purinya. Terlihat di sana Viktor dan dua teman sebaya pemilik ability atau Isauman sedang berlatih bela diri dengan kakek Erlangga sebagai pelatihnya. Sepertinya mereka tidak peduli dengan udara dingin di luar. Dua teman Isauman Viktor tersebut adalah anak-anak dari pemilik perusahaan penyewaan kapal pesiar terbesar di Indonesia. Jarot dan Cempaka, kekuatan andalan mereka yaitu membaca pikiran orang lain. Kekuatan tersebut hanya bisa digunakan mereka berdua secara bersama-sama. Merekalah yang sering membantu ayahnya memenangkan tender, agak curang memang. Keduanya sekolah di SMA Golden Rightstone. Seminggu sekali mereka berdua datang ke puri Marshall untuk berlatih bela diri dan mengembangkan kekuatan bersama Viktor dan kakek Erlangga.
Kakek Erlangga sendiri merupakan orang bijak yang perkataannya selalu didengar oleh banyak orang, baik dari golongan Isauman maupun manusia biasa. Beliau sendiri merupakan keturunan Isauman yang memiliki kemampuan melihat kejadian-kejadian penting di dunia baik masa lalu walaupun masa depan. Beliaulah yang menyuruh pasangan keluarga Marshall mengadopsi Mia delapan tahun lalu.
Latihan bela diri bagi para isauman memang kadang diperlukan apalagi jika kekuatan yang dimiliki tidak bisa secara langsung melindungi pemiliknya dari kejadian yang dapat melukai atau mengancam nyawa. Secara terpisah-pisah sebagian besar Iasuman si seluruh dunia melatih kekuatan fisik mereka. Kegiatan seperti ini dulunya pada jaman kuno peradapan Isauman memang diwajibkan untuk menghadapi bahaya baik dari Isauman merah maupun bencana yang terjadi. Hanya sedikit jumlah Isauman di Rightstone yang Mia kenal. Papa dan mama, keduanya Isauman namun Mia tak pernah tahu kekuatan apa yang mereka miliki. Selain itu Mia hanya mengenal Isauman seperti Viktor, Cempaka, Jarot, Kakek Erlangga dan almarhum istri Paman Bima, Lusiana.
Mia memang tidak pernah disuruh untuk berlatih bela diri seperti teman-teman pemilik ability lainnya. Semua Isauman tak pernah menghendaki adanya fire starter di dunia ini. Menurut sejarah, para fire starter lah yang menghancurkan peradaban Isauman di bumi berabad-abad lalu. Mia dilarang untuk mengeluarkan kekuatannya. Tentu saja Mia tak pernah diberitahu sebab segala sesuatu itu. Mia sebenarnya ingin mengetahui kenapa ia diperlakukan berbeda dengan Viktor yang diijinkan berlatih bela diri sedangkan Mia tidak namun jawaban yang diberikan papa, mama dan kekek Erlangga tak pernah memuaskannya. Mereka selalu bilang “Tidak Perlu.”
Esok hari makin banyak teman sekelas Mia yang membolos sekolah. Beberapa guru pun meminta libur karena terkena flu. Peraturan di Rightstone memang begitu. Penderita flu dilarang masuk sekolah sebelum sembuh karena selain memperlambat kesembuhan diri sendiri juga virus flu mudah menular ke orang lain. Sepanjang jam pelajaran pertama sampai ke enam tidak ada guru piket yang mengajar karena semuanya terkena flu. Para siswa hanya disuruh untuk mengerjakan tugas pengganti. Tugas yang diberikan tidak terlalu sulit sehingga tidak ada yang mengeluh. Sebaliknya, sisa waktu dapat mereka manfaat sesuka hati karena tidak ada guru yang mengawasi di dalam kelas.
“Salju turun di Rightstone memang aneh tapi lebih aneh lagi karena kota yang berdekatan dengan Rightstone seperti Asamcermai dan Malumpat sama sekali bercuaca cerah dan hangat,” bisik Arga sambil masih menyalin jawaban dari buku panduan. Ditunggunya respon Mia selama beberapa saat namun Mia sepertinya tak hendak mengomentari, maka Arga melanjutkan ceritanya, “Badan meteorologi dan Geofisika nggak bisa menjelaskan, bukankah itu sangat aneh?”
“Tempat lain seperti Bromo juga pernah turun salju. Bahkan gunung Jayawijaya diselimuti salju abadi. Di Bogor pernah turun hujan es.”
“Tapi semua tempat yang kamu sebutkan tadi kan letaknya di dataran tinggi.”
“Jadi, lo pikir gue tahu sebabnya?”
“Setidaknya kan kamu udah lama tinggal di sini, Mia. Dan juga, kamu sadar nggak kalau kota ini sama sekali beda dengan kota-kota lain di Indonesia?”
“Beda apanya? Sama saja kecuali salju yang tiba-tiba turun ini.”
“Nggak cuma itu. Coba deh kamu perhatikan, nama-nama tempat di sini, keadaan alam, bentuk bangunan, semuanya beda dengan tempat lain di Indonesia!” cetus Arga bersungguh-sungguh.
“Menurut gue, kalau masalah nama tempat kan buatan manusia, jadi terserah penghuninya dong mau namain apa tempatnya. Sedangkan keadaan alam, semua sama, pohon-pohon dan tanaman di sini juga bisa kita temukan di kota lain. Bentuk bangunan di sini juga sama aja di kota lain, kalau nggak tembok bersemen, biasanya kayu. Jadi, apanya yang aneh?”
“Mungkin kamu pikir analisisku konyol― tapi begini: misalnya nama kota ini, Rightstone, seperti nama tempat di Eropa, karena namanya berasal dari bahasa Inggris, juga hutan Rossevolt, udah gitu penduduk di kota ini banyak banget yang dari Eropa―meskipun lebih banyak yang dari China dan Jepang sih― lalu gimana dengan tumbuhan mawar yang bisa ditemukan di segala sudut kota? Bukankah itu aneh? Terus..”
“Kalau masalah mawar yang ada dimana-mana, sama aja halnya seperti bunga Raflessia yang juga gampang ditemuin di Bengkulu atau pohon ganja di Aceh,” potong Mia.
“Oke, mungkin benar begitu. Lalu bagaimana dengan beberapa bangunan yang mempunyai perapian di dalam rumah? Bukankah itu aneh untuk bangunan di daerah khatulistiwa? Belum lagi, bentuk bangunan kuno di sini, puri keluargamu misalnya, seperti di Eropa-Eropa, bandingkan dengan bangunan kuno di kota lain di Indonesia, biasanya candi atau pura.”
“Kalau itu menurutku masalah budaya aja. Memang, kebanyakan bangunan kuno di Indonesia itu candi atau keraton, tapi daerah lain seperti di Papua ada patung-patung Totem yang nggak bisa ditemui Jawa atau tempat lain di Indonesia. Jadi mungkin aja kota Rightstone dulu lebih dipengaruhi oleh pendatang dari Eropa. Elo tahu kan negara kita pernah kedatangan, Portugihs, Inggris, Spanyol dan penjajah kita, Belanda?”
“Bangsa Eropa kan baru empat ratus tahun lalu masuk Indonesia dan aku pikir bangunan kuno di Rightstone ini usianya lebih dari empat ratus tahun―paling nggak enam atau delapan ratus tahun begitu. Kamu kan juga tahu kalau Righstone bukan kota pelabuhan.”
“Sudahlah. Gue nggak peduli.”
“Kamu nggak berniat pengen tahu penyebab kejadian aneh di kota ini?” tanya Arga setengah kecewa.
“Satu-satunya kejadian aneh di sini cuma salju. Bisa aja karena pengaruh pemanasan global.”
“Ah, Mia. Kamu terlalu rasional. Kamu nggak bayangin ada kemungkinan di luar akal sehat kita?”
“Maksud lo akal sakit? Elo mau sakit jiwa, sakitlah sendiri, jangan ajak-ajak gue. Ntar kalau elo bener-bener udah sakit jiwa, elo boleh masuk ke rumah sakit bokap gue. Gratis.”
“Hahaha, kamu bisa juga melucu. Maksudku, tidakkah kamu percaya sama hal-hal gaib? Ada kemungkinan juga salju ini disebabkan oleh hal-hal gaib begitu. Gimana?”
“Jangan konyol, nggak ada hal-hal gaib yang―” Mia tidak meneruskan kalimatnya, ia sadar bahwa kekuatannya sendiri merupakan sesuatu yang gaib, nggak bisa dinalar dengan akal sehat.
“Aku percaya, Mia. Percayalah padaku. Aku akan menceritakan satu rahasia padamu tapi sebaiknya nggak di sini. Aku tunggu kamu di perpustakaan,” bisik Arga yakin lalu menutup bukunya, menumpuknya di meja depan bersama tumpukkan buku tugas anak lainnya lalu ia berjalan ke luar kelas.
Arga percaya hal gaib. Ia punya rahasia. Rahasia apa? Apakah sesuatu yang berhubungan dengan hal gaib? Apa dia seorang Isauman seperti Mia dan yang lainnya? Mia belum mengenal Arga dan sepertinya anak ini penuh rasa ingin tahu dan nekat. Tapi bahaya apa yang bakal Mia dapat kalau cuma sekadar mendengarkan Arga bercerita? Siapa tahu dia bisa membantu permasalahan Mia. Permasalahannya dengan ingatan masa kecilnya yang hilang atau dengan kekuatan apinya. Mungkin sebaiknya Mia menyusul. Nomor-nomor terakhir tugasnya tidak benar-benar dikerjakannya dengan teliti, Mia sudah buru-buru ingin menyusul Arga ke perpustakaan. Masih ada waktu satu jam sebelum pergantian jam.
Arga duduk di meja baca di pojok paling belakang dan gelap karena cahaya terhalangi rak-rak buku yang menjulang sampai hampir menyentuh langit-langit. Meja-meja di sudut tersebut jarang ditempati karena hampir tidak ada yang bisa membaca buku di sana saking gelapnya dan lampu-lampu tak pernah dinyalakan. Mia menghampiri meja di samping Arga yang dibatasi dengan papan kayu dengan meja-meja lainnya.
“Kamu siap dengar ceritaku?”
Mia mengangguk walaupun nggak yakin Arga melihat anggukannya.
“Sejak kecil banyak hal-hal aneh yang menimpaku. Kata orang tuaku, waktu berumur satu tahun aku sudah bisa berbicara dengan lancar. Waktu kecil aku pernah jatuh dari lantai dua rumahku dan aku sama sekali nggak terluka. Aku juga sering mendapat mimpi yang menjadi kenyataan, sebagian besar diantaranya sungguh mengerikan. Termasuk pada malam sebelum orang tuaku meninggal, aku bermimpi tentang kecelakaan. Dalam mimpiku itu aku nggak tahu siapa korbannya karena keadaan sangat gelap dan kabur. Aku mendapat jawabannya esok hari ketika seorang polisi datang menjemputku di sekolah dan mengabariku bahwa orangtuaku meninggal. Mobil mereka tertabrak truk pengangkut minyak. Banyak yang meninggal dalam kecelakaan beruntun tersebut, nggak cuma kedua orangtuaku. Aku kadang sering menyesali kenapa aku tidak tahu siapa korban dalam mimpiku tersebut. Selalu begitu, aku mengetahui sesuatu akan terjadi dari mimpi-mimpiku tapi aku nggak pernah tahu akan menimpa siapa. Dan lihat ini,” Arga menggulung sweater lengan panjangnya lalu menunjukkan sebuah tanda di lengannya. Sebuah tato yang cukup besar berwarna kuning keemasan berbentuk kristal salju dengan butiran-butiran hijau pada sisi-sisinya. Mia langsung teringat pada kalung yang dipakainya namun selalu ia masukkan ke dalam bajunya. Ia ragu untuk menunjukkannya pada Arga.
“Tanda ini sudah ada sejak aku lahir tapi baru terlihat jelas setelah aku tiba di Rightstone. Aku tahu ini sesuatu yang gaib dan mungkin saja bisa berbahaya kalau aku sembarangan cerita ke orang lain.”
“Lalu kenapa elo cerita ke gue?”
“Aku merasa ada sesuatu di dalam diri kamu yang membuatku ingin menceritakan semua ini kepadamu. Sejak awal. Sejak awal aku melihatmu aku merasa aku sudah lama mengenalmu.”
“Mungkin cuma perasaan lo aja. Gue sendiri nggak merasa udah lama kenal elo.”
“Ah..” desah Arga kecewa, “Tapi.. adakah sesuatu yang aneh dari diri kamu? Sesuatu yang gaib kayak aku?” desak Arga dengan ekspresi penasaran yang tidak dibuat-buat.
“Nggak ada. Semuanya berjalan normal selama ini,” jawab Mia mantap sambil diam-diam menyilangkan telunjuk dan jari tengahnya. “Mungkin semuanya cuma kebetulan,” tambah Mia.
“Nggak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, Mia. Semua sudah diatur sama Yang Di Atas. Aku yakin. Begitu pula dengan pertemuan kita.”
“Udah jam dua belas. Sebaiknya kita kembali ke kelas karena Bu Murti nggak absen seperti guru lainnya,” kata Mia sambil bangkit dari duduknya.
“Kalau ada sesuatu aneh yang menimpamu, tolong kasih tahu aku,” bisik Arga sambil mengikuti Mia berjalan menuju kelas.
“Oke.”
Hari ini Mia nggak memakai mantel. Ia hanya mengenakan sweater sekolah. Jalanan sangat licin karena mobil pembersih salju hanya membersihkan jalan. Sedangkan pembersihan trotoar menjadi kewajiban penghuni bangunan di depan trotoar tersebut, begitulah bunyi Peraturan Sementara Pemerintah Kota. Meskipun menjadi kewajiban namun tak banyak penghuni rumah yang benar-benar mencanangkan peraturan tersebut. Selain karena tidak mempunyai peralatan, banyak penduduk yang terkena flu atau sakit karena pergantian cuaca yang sangat ekstrim ini sehingga tidak ada waktu untuk membersihkan trotoar. Beberapa orang sudah menjadi korban dari trotoar yang licin. Sore itu seperti biasanya Mia berjalan kaki pulang sekolah bersama Arga. Beberapa anak kecil berlarian. Mereka berlomba-lomba menuju taman bermain tak jauh dari tempat Mia dan Arga. Anak-anak itu bermaksud bermain-main dengan salju yang sudah sangat tebal di taman tersebut. Dan tiba-tiba seorang anak kecil terjatuh di depan Mia. Untung pakaiannya sangat tebal sehingga ia tidak terluka.
“Kamu nggak pa-pa, adik kecil?” tanya Mia sambil membangunkan anak kecil tadi.
“Nggak pa-pa. Makasih ya, Kak!” seru anak kecil tadi dengan senyum yang mengembang memamerkan gigi-giginya yang putih. Tidak menunggu lama, anak kecil tersebut kembali berlari seakan jatuh sudah menjadi bagian dari permainannya.
“Jalanan sangat licin. Berhati-hatilah. Anak kecil tadi pakaiannya tebal. Kamu cuma pakai kaos kaki tipis,” ucap Arga.
“Kayaknya mulai besok gue lebih baik ganti memakai sepatu boot. Sepatu yang ini terlalu tipis dan alasnya licin, nggak cocok buat jalan bersalju.”
“Benar. Noni kemarin kakinya terkilir karena terpeleset. Makanya hari ini dia nggak masuk kelas.”
“Sejak turun salju keadaan kota jadi agak kacau. Banyak orang sakit dan semua kegiatan jadi terganggu.”
“Itulah sebabnya, Mia. Aku sangat ingin mengetahui penyebab semua ini!” tandas Arga sambil memandang mata Mia dalam-dalam.
“Ya, cari aja. Nggak ada yang melarang kan?”
Arga tersenyum simpul.
(***)

No comments:

Post a Comment

please leave polite comments