(***)
“Teman baru?”” tanya Viktor saat tiba makan malam. Papa dan mama nggak ada di rumah malam itu.
“Hah? Apa?” Mia agak kesulitan mencerna pertanyaan Viktor tapi akhirnya ia paham, “Oh, yang tadi? Anak pindahan dari kota Malumpat.”
“Jadi elo udah bisa nguasain pengendalian emosi?”
“Nggak tahu,” jawab Mia sambil menikmati makan malam berupa sup ayam itu, “tapi aura gue waktu tadi nggak keluar kok,” ia agak terkejut juga. Ia sendiri baru sadar bahwa selama berdekatan dengan Arga tadi, nggak sedikitpun aura panasnya keluar. Pembicaraan dengan Arga mengalir begitu saja tanpa Mia harus merasa takut kalau-kalau auranya keluar. Ia sendiri heran.
“Hmm, baguslah. Hati-hati aja.”
“Iya.”
Selesai makan malam Mia langsung masuk ke kamarnya. Kaos lengan panjang yang sedang dikenakannya ia lepas beserta branya. Ia membuka lemari bajunya lalu mengambil tanktop warna coklat tua yang segera dikenakannya. Meskipun udara di luar dingin, Mia sama sekali tak terganggu. Seharian ini teman-teman sekolah juga para guru ramai memperbincangkan masalah salju yang tiba-tiba turun di Rightstone. Beberapa teman sekelasnya juga absen karena terkena flu, yang lainnya melapisi seragam sekolah mereka dengan sweater atau mantel tebal. Semua AC di sekolah dimatikan hari itu. Bangunan-bangunan di Rightstone tidak pernah dilengkapi dengan pemanas ruangan karena musim dingin sebelumnya tidak pernah melanda daerah khatulistiwa tersebut. Di mana-mana sepanjang perjalanan Mia pulang sekolah terlihat orang-orang yang menggigil kedinginan menghadapi situasi yang nggak biasa itu.
Sambil duduk bersila di ranjangnya yang king size itu, Mia mencoba mengeluarkan kekuatan apinya. Ia menengadahkan tangan kanannya sejajar dengan dadanya. Mula-mula api kecil kemerahan keluar lalu makin membesar. Api seukuran kepala orang dewasa itu berkobar-kobar, bagian bawahnya melingkari sebagian lengan Mia.
“Sebenarnya apa tujuannya aku diberi kekuatan seperti ini? Nggak ada yang bisa kulakukan dengan kekuatanku ini. Bahkan kedua orang tua angkatku melarangku mengeluarkan kekuatan ini. Ada apa dengan kekuatanku?”
Saat seperti ini Mia sungguh tersiksa. Sejak tinggal dengan keluarga Marshall, ingatan masa kecilnya hilang seluruhnya. Hal pertama yang ia ingat cuma ketika ia terbangun dari ranjang kamarnya yang masih ia tempati sampai sekarang sejak delapan tahun lalu. Orang tua angkat Mia hanya memberitahunya bahwa ia berasal dari suatu desa yang hangus terbakar. Kedua orang tuanya meninggal dalam kebakaran. Ia satu-satunya keluarga yang tersisa. Hal yang sama juga diamini oleh kakek Erlangga, seorang Isauman tua bijaksana yang tinggal tak jauh dari puri Marshall. Namun, semua keterangan yang dihimpunnya tidak benar-benar memuaskan perasaan ingin tahunya. Mia ingin sekali mengingatnya sendiri, bukan mendengar dari cerita orang lain. Namun ia tak pernah tahu bagaimana caranya.
Meskipun Mia tidak mempunyai ingatan buruk apapun tentang masa kecilnya, ia tumbuh menjadi gadis pendiam dan tertutup. Sepertinya amnesia yang ia derita sepanjang delapan tahun ini tidak mengubah sifat aslinya. Hal tersebut diperparah dengan kondisi keluarga barunya, Papa dan Mama hampir tidak pernah berada di rumah, pekerjaan Papa sebagai Direktur Rumah Sakit Jiwa di kota Asamcermai menuntutnya untuk menghabiskan banyak waktu di kota tetangga tersebut.
Ketika terbangun, Mia udah berada di ranjang yang berbeda. Ranjang itu sempit dan lusuh. Warna asli spreinya sudah memudar. Mia segera mengangkat tubuhnya. Disekelilingnya terdapat sembilan ranjang yang sama. Anak-anak kecil masih tertidur di sana. Namun tiba-tiba mereka serentak bangun. Dengan cepat mereka menghampiri Mia. Tatapan anak-anak kecil itu kosong, justru wajah seram dari sembilan anak itu yang mendominasi penampilan mereka yang seharusnya sangat manis dengan gaun tidur yang berenda-renda itu. Semuanya berebutan mencekik leher Mia. Mia ingin sekali mengeluarkan kekuatan apinya untuk membakar anak-anak yang lebih seperti iblis di mata Mia namun tidak sepercik pun api keluar dari tangannya. Justru ia semakin kesakitan oleh cekikan setan-setan kecil itu.
Mia menjerit-jerit tertahan. Tangannya menggapai-gapai ke atas tapi nggak ada yang dapat ia raih. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti ulat kepanasan. Viktor yang mendengar suara jeritan dari kamar yang terletak persis di samping kamarnya itu langsung terbangun dan berlari menghampiri adik angkatnya yang sedang mengigau. ia bangunkan adiknya yang sudah mulai dipenuhi keringat dingin disekujur tubuhnya itu.
“Hei, tenang… tenang, elo nggak papa, kan?” tanya Viktor agak cemas mengetahui adiknya baru bermimpi buruk.
“Nggak,” Mia masih terngiang-ngiang oleh mimpi yang baru dialaminya.
“Ada apa?” Viktor kembali bertanya.
Mia mengangkat tubuhnya, lalu duduk di depan Viktor. Ia nggak menjawab pertanyaan Viktor. Ia hanya menarik rambutnya yang acak-acakan ke belakang.
“Perlu gue panggilin Kakek Erlangga?”
“Nggak usah, “ tolak Mia sambil masih shock dengan mimpinya.
“Kalau gitu gue balik ke kamar, ya?”
“Jangan…” cegah Mia meskipun ragu mengatakannya. Sebenarnya ia takut sendirian tapi ia nggak mau merepotkan Viktor.
“Ya udah, elo tidur lagi. Gue jagain elo disini, oke?”
“Tapi…”
“Nggak ada siapa-siapa di rumah. Mama dan papa belum pulang. Gue yang harus jagain elo,” tandas Viktor.
Mia kembali merebahkan tubuhnya tapi belum mau memejamkan matanya. Viktor yang duduk di sampingnya mengelus-elus rambut Mia. Sebenarnya ia agak malu dan sungkan melakukan itu tapi ia ingin adiknya itu merasa aman. Ditariknya selimut sampai hanya menyisakan kepala Mia karena dirasanya tubuh Mia sangat dingin. Perlahan Mia mulai memejamkan matanya.
Meski yakin Mia nggak akan mengalami mimpi yang sama kali ini, Viktor nggak mau beranjak dari tempatnya untuk meninggalkan adiknya itu. Dari jarak sedekat ini ia bisa mengamati gadis yang sudah delapan tahun tinggal di rumahnya ini. Nggak banyak yang berubah dari Mia. Kulitnya masih sepucat dulu pertama kali ia melihatnya. Rambutnya yang kecoklatan masih tetap dibiarkan panjang seperti sewaktu kecil. Bibirnya yang kemerahan itu mengingatkan Viktor saat pertama kali berjumpa dengan Mia. Waktu itu bibir bawah Mia bengkak dan berdarah. Sampai sekarang ia nggak tahu kenapa dulu Mia bisa sampai babak belur seperti itu padahal usianya baru delapan tahun. Saat seumur segitu seharusnya Mia sedang tertawa-tawa dan bermain dengan teman-temannya. Justru pemampilan lusuh, kusut dan tatapan Mia yang tajam dan murung yang diperlihatkan. Sejak saat itu Viktor berjanji akan melindungi adik barunya itu dan nggak akan membiarkannya terluka seperti saat itu. Tapi entah kenapa ia nggak bisa bersikap hangat di depan Mia. Ia merasa sangat menyesal. Pasti selama ini Mia selalu merasa kesepian padahal Viktor juga tahu Mia sama sekali nggak punya teman.
Saat terbangun esok harinya Mia merasa sangat senang karena Viktor masih disampingnya. Masih dengan mata terbuka duduk di sana. Tidak tampak keletihan ataupun kantuk dalam wajah Viktor. Justru ketika Mia bangun, Viktor menyambutnya dengan segurat senyum manis yang membuat lesung pipinya makin cekung ke dalam, menambah manis wajahnya yang sudah tampan.
“Elo nggak tidur?” tanya Mia nggak enak hati.
“Kan gue jagain elo. Lagian gue nggak ngantuk kok. Buruan mandi! Sarapan udah siap tuh. Gue juga mau balik kamar buat mandi,” sambil berkata begitu, Viktor berlalu.
Mia masih terheran-heran dengan sikap Viktor yang jarang sekali menampakkan perhatiannya tapi ia sadar ia harus segera mandi, maka dengan terpaksa diseretlah kakinya menuju kamar mandi. Ia lega setelah mengetahui bahwa kekuatannya nggak hilang seperti dalam mimpinya semalam. Maka pagi itu Mia masih bisa mandi air hangat walaupun sebenarnya kamar mandi Mia juga mampu menghadirkan keduanya.
Selesai mandi Mia mengenakan sweater putih sepanjang siku, ia pasangkan dengan celana abu-abu panjang. Seakan lupa dengan mimpi buruknya semalam, Mia melangkah riang menuju ruang makan. Disana Viktor sudah mulai memakan sarapan pagi itu, nasi goreng hangat dengan telur mata sapi plus segelas coklat panas, menu yang sama dengan hari kemarin.
“Mama-Papa kapan pulangnya?” tanya Mia sambil meneguk coklat panasnya pelan-pelan.
“Nggak tahu. Paling seminggu baru pulang,” jawab Viktor enteng.
“Ke Asamcermai lagi?”
“Papa yang ke sana. Mama ke Mayakarta, Tante Sofi mau melahirkan.”
“Oh iya, sudah hampir sembilan bulan.”
“Gue mau ke hutan Rossevolt. Mau ikut?” tambah Viktor.
“Hutan lindung itu kan? Ngapain?”
“Ketemu teman lama.”
“Emm, kalau gitu gue ganti baju dulu,” Mia nggak butuh waktu lama untuk menghabiskan coklat panasnya. Ia segera naik ke kamarnya yang terletak di lantai dua itu.
Salju yang menutupi jalanan kota sudah mulai disingkirkan dengan alat yang didatangkan dari pusat kota. Sebenarnya alat tersebut biasa digunakan untuk merubuhkan bangunan namun bisa juga digunakan untuk menyingkirkan salju ke tepi jalan.
Sudah lama Mia nggak pernah keluar puri jadi ia diam-diam amat senang ketika Viktor mengajaknya ke hutan Rossevolt. Sebuah hutan gelap di lembah gunung Rosse, sebelah selatan kota Rightstone. Hutan tersebut merupakan kawasan hutan lindung milik pemerintah dengan seorang kepala polisi hutan yang tinggal di tengah hutan. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu satu jam untuk berjalan kaki dari pintu masuk hutan itu banyak dijumpai semak-semak mawar yang sudah meranggas di kanan kiri jalan setapak itu. Pohon-pohon besar yang berusia ratusan tahun yang biasanya mencegah sinar matahari menerobos tanah hutan kali ini turut menggugurkan daunnya menghadapi salju yang mulai menutupi kota Rightstone. Tidak ada hewan liar di hutan tersebut. Babi dan rusa telah lama punah karena perburuan liar yang terjadi beberapa dekade silam. Satu-satunya pohon yang masih menyisakan daunnya hanya pohon cemara.
Sampailah Mia dan Viktor di halaman sebuah rumah mungil berdinding batu di tengah hutan Rossevolt . Uniknya, atapnya berbentuk joglo dengan genteng berwarna kelabu sepadan dengan dinding rumah itu. Yang menarik dari rumah itu adalah kehadiran cerobong asap, pasti sangat membantu untuk urusan cuaca dingin bahkan bersalju yang sekarang menyelimuti Rightstone. Memang sangat jarang dijumpai rumah atau bangunan di Rightstone yang mempunyai perapian di dalam rumah karena memang kota tersebut bukan kota yang seharusnya beriklim subtropis maupun dingin. Walau begitu beberapa bangunan tua seperti puri Marshall juga memiliki cerobong asap yang sesekali dinyalakan saat cuaca dingin dan selalu dinyalakan sepanjang musim salju yang tengah melanda kota itu.
Baru saja Mia dan Viktor hendak menginjakkan kaki di teras rumah, pintu utama terbuka seolah si Tuan Rumah sudah mengetahui kedatangan para tamunya. Keluarlah sosok lelaki lanjut usia yang mengenakan sarung dan kaos oblong seakan tidak peduli dengan cuaca dingin yang melanda Rightstone.
“Paman Bima,” sapa Viktor.
“Mari masuk, di luar sangat dingin,” seru Paman Bima setelah mengetahui siapa yang datang.
Memasuki ruang tamu, udara jadi lebih hangat karena perapian dinyalakan. Sebenarnya Mia heran, untuk apa dibangun perapian di negara tropis. Sekarang memang berguna untuk menghadapi musim salju tapi dulu? Sebelumnya tidak pernah ada salju turun di kota Rightstone. Selanjutnya ia takjub karena di atas meja sudah tersedia dua cangkir kopi panas, siapa lagi kalau bukan buat Mia dan Viktor. Hampir semua perabot dalam ruang itu terbuat dari kayu. Mulai dari kursi, meja tempat menaruh minuman mereka itu, lemari dan rak-rak berisi kotak-kotak dan botol yang entah apa isinya sampai lukisan-lukisan alam, cidera mata dan hiasan dinding semua terbuat dari kayu. Di atas lantai tempat mereka berdiri, terhampar karpet besar yang sangat tebal dan hangat. Seandainya tidak ada kursi, Mia dengan senang hati akan mau menduduki karpet tersebut. Dinding ruang tersebut dipenuhi dengan aneka lukisan alam dan foto-foto Paman Bima sewaktu muda, ada pula piagam Kalpataru serta sertifikat penghargaan lainnya. Mia kagum pada sosok paman yang berjenggot putih tersebut.
Tanpa komando, mereka serempak duduk.
“Sekarang katakan, apa tujuan kalian datang kesini?” tanya Paman Bima sambil meraih salah satu botol dari rak yang berada di samping tempat ia duduk. Ia membukanya lalu meminum isinya. Mia menduga pasti isinya arak atau semacamnya, “Tunggu, aku tahu. Inikah Mia, gadis api itu?”
“Ya, Paman,” jawab Viktor.
“Aku sudah lama menunggu untuk bertemu denganmu, Mia.”
“Paman tahu siapa aku?”
“Tidak. Tidak juga. Hanya saja ada sesuatu penting yang harus kusampaikan padamu. Tunggu sebentar,” sambil berkata begitu, Paman Bima bergerak masuk ruang tengah. Ia kembali dengan sebuah kotak kecil dari kayu. Kemudian ia mengeluarkan isinya lalu menyerahkannya pada Mia, “Terimalah ini, Mia.”
“Kalung?” tanya Mia heran. Kalung itu terbuat dari emas kuning dengan sebuah bandul berbentuk kristal salju berwarna senada dengan kalungnya. Permata hijau yang ditanam di seluruh sisi bandul itu berkilauan. Mia tak percaya bagaimana bisa orang yang baru ia kenal ini menghadiahinya sebuah kalung yang sangat mahal ini.
“Sebelum wafat, istriku menyuruhku memberikan kalung ini pada siapapun pemilik kekuatan api yang kutemui. Aku telah menunggu lama untuk bertemu dengan pemilik kekuatan api lain selain istriku. Aku kira aku tak akan pernah menemuinya sampai aku mati tapi dua bulan lalu aku bertemu Viktor. Ia bilang bahwa ia punya adik yang bisa mengeluarkan api dari dalam tubuhnya. Aku sangat senang akhirnya bisa melaksanakan wasiat terakhir dari istriku.”
“Tadi Paman bilang istri paman juga pemilik kekuatan api?”
“Ya. Benar. Tapi hampir sepanjang hidupnya Luisana tak pernah mengeluarkan kekuatannya.”
“Kenapa, Paman? Kenapa ia nggak menggunakan kekuatannya?” Mia makin penasaran.
“Entahlah, anakku. Dia tidak pernah menyebutkan alasan mengapa ia begitu. Mungkin memang sebaiknya ada hal-hal tetap terjaga sebagai misteri di dunia ini,” Paman Bima meneguk kembali minumannya.
Mia memakai kalung pemberian Paman tua itu. Cocok sekali menghiasi lehernya.
“Nah, Paman. Sebaiknya kami pamit pulang dulu,” Viktor mengundurkan diri.
“Ya. Paman juga harus berangkat kerja. Sering-seringlah kemari.”
Jarak Puri Marshall dengan kawasan hutan Rossevolt memang sangat jauh. Tak heran kalau sampai tengah hari mereka belum sampai rumah. Sampai-sampai perut Mia keroncongan ingin makan siang. Viktor yang mendengar bunyi perut Mia segera menepikan mobilnya ke sebuah restoran jepang di pinggir jalan yang mereka lalui.
“Makan dulu, baru kita lanjutin perjalanan.”
Mia memesan semangkuk ramen spesial sedangkan Viktor memilih sashimi sebagai menu makan siangnya. Untuk minuman, keduanya kompak memesan teh hijau.
Tuesday, March 16, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment
please leave polite comments