Tuesday, March 16, 2010

The Guardian part 5

Sore itu Mia tidak bergegas pulang ke rumah. Ia lebih dulu menyuruh Arga pulang sendirian kemudian ia sendiri menaiki bus menuju pusat kota. Sebenarnya ini adalah pengalaman pertamanya naik bus umum. Mia sudah bertekad akan membelikan kado Viktor pada hari ulang tahunnya besok. Beberapa hari ini memang hubungannya dengan kakak angkatnya itu lebih dekat. Mereka kini saling berbagi rahasia dan sering menghabiskan waktu bersama.
Suasana dalam bus sangat penuh sesak. Mia harus berdiri berjejalan dengan penumpang lainnya yang kebanyakan pekerja kantoran yang baru pulang. bus yang mengangkut mereka mempunyai rute yang panjang sehingga sangat penuh oleh penumpang dari berbagai tempat di Rightstone. Bus tersebut tidak di lengkapi dengan AC dan dua buah pintu untuk keluar dan masuk penumpang selalu terbuka. Mia ngeri jika ia harus berdiri berdekatan dengan salah satu pintu tersebut. Meskipun gerah dan sempit, Mia lebih memilih untuk merapat ke tengah. Mia turun di depan halte Mall Silverstone setelah membayar ongkos kepada kondektur. Dari halte ia menyebrang jalan yang nyaris macet.
Mia sudah beberapa kali memasuki mall Silverstone sejak kecil namun ia tidak pernah hafal dengan letak-letak toko di dalamnya. Dengan canggung dia melangkahkan kaki ke dalam mega mall tersebut. Mia besyukur karena meskipun mall tersebut dipenuhi pengunjung tetapi suasana tidak terlalu ramai dan berjejalan karena mall tersebut sangat luas. Mula-mula Mia memasuki sebuah toko mainan namun ia tidak menemukan benda yang menarik untuk dihadiahkan pada Viktor. semua mainan di sana menurutnya lebih cocok untuk anak kecil. Mia sendiri tidak tahu apakah Viktor menyukai mainan. Berikutnya ia memasuki toko sepatu. Beberapa buah sepatu langsung menarik perhatiannya namun ia baru ingat kalau ia tidak pernah tahu berapa ukuran sepatu Viktor. Keluar dari toko sepatu, Mia memasuki toko asesoris. Ternyata di sana berisi macam-macam pernak-pernik perempuan padahal tadinya ia pikir mungkin ia akan menemukan gelang atau topi untuk anak laki-laki. Belum sempat berbalik untuk keluar dari toko terseut, Mia buru-buru disambut―lebih tepatnya dihadang oleh pramuniaga toko yang terlihat manis dengan seragam tokonya yang seba merah jambu.
“Nona, Ada yang bisa saya bantu? Anda sedang mencari asesoris macam apa, kira-kira?” tanya wanita yang Mia taksir sekitar duapuluh tahun.
“Err, sebenarnya saya sedang mencari kado untuk kakak laki-laki saya tapi sepertinya disini hanya menjual benda-benda untuk anak perempuan saja,” jawab Mia tidak enak hati.
“Hihihi. Tentu saja karena kami toko asesoris perempuan. Tapi tunggu dulu, apakah Nona sudah menyiapkan penampilan Nona sendiri untuk acara ulang tahun kakak Nona tadi?”
“Oh, nggak. Kami nggak mengadakan pesta kok―tapi kemungkinan kami akan pergi makan malam,” jelas Mia.
“Eh jangan begitu. Makan malam pun Nona harus berpenampilan maksimal untuk kakak tersayang yang sedang ulang tahun. Kami akan membantu Nona untuk penampilan Nona saat acara makan malam itu. mari ikut kami!” bujuk pramuniaga tadi sambil setengah menyeret Mia untuk memasuki sebuah pintu di belakang meja kasir.
Mia sudah ingin menolak ketika ia tiba sudah berada di ruangan yang berbeda dari toko tadi. mula-mula ia mengira bahwa ia akan diajak ke ruang kerja atau gudang sempit tetapi ia salah. Justru ruangan di balik toko asesoris itu sangat luas dan nyaman. Dari tempat ia berdiri, Mia bisa melihat pemandangan kota yang terhampar dari balik dinding kaca besardengan tirai-tirainya yang tersingkap. Di tengah ruangan terdapat sofa dan meja bundar besar. Pada bagian samping kanan terdapat dua buah kaca besar dengan kursi-kursi besar seperti sebuah salon kecantikan, dan memang seperti itu karena ia juga melihat rak-rak beroda yang berisi macam-macam alat kecantiakn seperti di salon. Bagian dinding kiri ruangan ditaruh lemari-lemari besar―Mia tak tahu apa isinya, tapi kemungkinan adalah pakaian karena di sebelah lemari tersebut terdapat rak-rak tempat menaruh sepatu-sepatu dengan berbagai bentuk dan warna. Mia baru sadar bahwa ada orang lain di sana selain dirinya. Sesosok wanita berambut ikal hitam yang diikat dua di atas telinganya. Dari bentuk pakaian yang dikenakannya, Mia menduga pasti wanita tersebut seumuran dengannya. Mia tidak bisa menebak wanita tersebut karena wanita tersebut membelakanginya dan sama sekali tak mengeluarkan suara. Apakah dia mengenal wanita itu? tapi seingatnya ia tak pernah mempunyai teman―tidak perempuan maupun laki-laki. Pertanyaannya tidak menari-nari terlalu lama di kepalanya karena sesaat kemudian wanita tersebut berbalik.
“Selamat datang, Mia!!” seru wanita misterius tadi yang ternyata adalah Cempaka, teman Viktor yang sering berlatih bela diri setiap minggu di halaman puri Marshall.
Mia benar-benar terkejut dan masih belum mengerti apa yang terjadi. Ia cuma bisa melongo tanpa mengucapkan satu patah katapun.
“Jangan bengong gitu dong! Kayak lihat setan aja!” gerutu Cempaka sambil berjalan mendekat, “Jadi, kamu mau makan malam sama Viktor, iya kan?” tanya Cempaka dengan antusias, “Kamu tenang saja. aku punya segalanya yang akan merubahmu tampil cantik dalam sekejap untuk acara makan malammu tadi!” tandas Cempaka sambil mencengeram bahu Mia erat.
“T-tapi―tapi bagaimana kamu bisa tahu―dan lagi kenapa kita bertemu di sini? ini―ini sangat…”
“Kamu lupa ya! Aku kan Mind Reader―maksudku, aku dan saudaraku, Jarot. Tentu saja aku tahu apa yang kamu dan Viktor pikirkan. Hehehe….”
“Oh yeah. Tentu saja…” desah Mia.
“tenang saja. Aku tahu itu rahasia,” Cempaka mengedipkan sebelah matanya lalu berbalik sambil berputar sehingga roknya berkibar melingkar sangat indah.
“Maksudmu? Apanya yang rahasia?”
“Yang selama ini kamu pikirkan, tentu saja!” seru Cempaka, Ah sudah, lupakan itu. Aku tahu kamu setuju kalau aku mendandanimu untuk acara makan malammu nanti malam bersama Viktor.”
“Yeah aku nggak perlu mengucapkannya lagi. Oya satu hal lagi. Kenapa kamu ada di sini?”
“Oh aku tadi aku sudah tahu kamu akan menanyakannya. Hm, jadi begini, mall ini adalah milik papaku. Sedangkan toko ini punyaku. Aku sengaja minta ruangan yang besar dibalik toko untuk saat-saat seperti ini.”
“Saat-saat seperti ini?”
“Saat-saat ada teman kayak kamu yang ingin aku dandani. Oh sudahlah, sebenarnya sih saat-saat ada pelanggan yang ingin aku jadikan bahan eksperimen. Hehehe.. ah, maaf. Aku nggak bakal gagal kok, aku udah berpengalaman sejak setahun lalu dan akhir-akhir ini pelanggan yang aku dandani secara gratis itu cukup puas.”
“Kamu yakin?”
“Yakin dong. Oh, aku tahu kamu pasti mau bertanya kapan aku membaca pikiranmu itu kan? Jadi begini, dua hari lalu kan aku dan Jarot berlatih bela diri di purimu, saat itu kami iseng membaca pikiran kakakmu, Viktor. Dari situ kami tahu bahwa dia akan mengajakmu makan malam saat ulang tahunnya yang kedelapan belas ini. Lalu tadi waktu aku baru tiba ke mall ini aku melihatmu juga. Kemudian aku mengikuti dan membaca pikiranmu. Rupanya kamu lagi nyari kado buat Viktor dan pucuk dicinta ulam tiba, kamu pun masuk ke tokoku ini. Langsung saja aku suruh Mina untuk membujukmu masuk ke sini,” terang Cempaka kemudian melirik pramuniaga yang masih berdiri di belakang Mia.
“Bukannya kamu nggak bisa baca pikiran orang kalau nggak sama-sama Jarot?”
“memang! tuh orangnya masih di toilet. BAB. Hehehe…” seru Cempaka sambil menunjuk sebuah pintu dinding kanan ruangan, “Jaaar! Buruan keluar! Kamu musti ngaku dosa dosa juga sama Mia nih!”
“Aku tahu Mia sudah memaafkan kita, kok. Bukan begitu, Miaaa?” sahut Jarot dari dalam toilet.
“Yah, sudahlah. Yuk Mia, waktu kita nggak lama,” kata Cempaka sambil menarik tangan Mia menuju lemari pakaian. Begitu dibuka, terpampanglah deretan-deretan gaun dan baju semuanya ditutp dengan plastik bening. Cempaka langsung mengambil sebuah gaun berwarna hijau zamrud lalu di tempelkannya kle badan Mia sambil berkata, “Nah, gaun ini cocok buat kamu! Sebentar, akan kucarikan bolero hitam dan sepatu yang pas,” lalu diserahkannya gaun tadi kepada Mia. Tidak berapa lama kemudian Cempaka menemukan bolero yang diinginkannya. Sebelum Cempaka sempat memilih sepatu, Mina, si pramuniaga mengangkat sepasang sepatu hak tinggi hitam yang sangat feminim, “Pintar kamu!” puji Cempaka. Kemudian semua benda tadi disodorkannya pada Mia untuk langsung dipakai.
Begitu keluar dari fitting room, terlihatlah dengan dengan jelas keindahan busana yang dikenakan Mia. Gaun yang dipakainyapas membalut tubuhnya yang ramping. Gaun hijau model tube top yang memanjang sampai lutut dengan potongan melebar dihiasi renda-renda bunga hitam pada bagian atas dan bawahnya. Bolero hitam sepanjang siku yang dipakai sebagai penghangatpun kelihatan serasi dengan gaun tersebut. Dan sepatu hak tinggi yang dipakainya seolah sudah ditakdirkan untuk dipasangkan dengan gaun hijau zamrud tersebut.
“Cakep banget…”decak Jarot yang baru keluar dari toilet.
“Ohohoho… semua ini berkat bantuanku,” sahut Cempaka bangga, “Ayo ke sini. Aku akan merias wajah dan rambutmu.”
Mia menurut saja duduk di depan salah satu kaca rias. Cempaka kemudian melilitkan sebuah kain lebar yang melindungi gaun Mia terkena noda make-up―seperti di salon kecantikan. Kemudian wajah Mia dibersihkan dari kotoran yang menempel. Baru setelah itu Cempaka bingung akan melakukan apa lagi dengan wajah Mia karena wajahnya sudah terlihat sempurna tanpa sapuan make-up. Cempaka termenung mengamati wajah Mia sambil menopang dagunya dengan slah satu tangannya. Mina si pramuniaga hanya mengangguk angguk di sisinya karena mengerti apa yang dipikirkan majikannya. Akhirnya Jarot yang mengeluarkan suara.
“Ya sudah kalau nggak ada yang bisa diperbaiki lagi. Begitu saja Mia udah kelihatan cantik kok. Kasih lipstik sama bedak yang tipis-tipis aja.”
“Ya sudahlah,” desah Cempaka sambil memoleskan lipstik berwarna pink lembut di atas bibir Mia, “Begini nih, kalau ketemu wajah cantik aku malah bingung karena malah nggak ada yang perlu dirias,” katanya.
“Nah Mia. Sekarang tinggal kita cari kado buat kakakmu,” cetus Cempaka setelah selesai merias wajah Mia. Rambut Mia yang ikal dibiarkan terurai.
“Ha? Aku harus keluar masuk toko dengan memakai pakaian seperti ini?” tanya Mia ragu.
“Oh benar juga. Nanti kamu kelihatan aneh,” sesaat Cempaka berpikir, “Aha! Kamu tinggal bilang aja mau ngasih kado macam apa, ntar biar aku dan arot yang cariin. Mall ini kan lengkap!”
“Aku masih belum tahu mau ngasih apa..”
“Bagaimana kalau sepatu?” cetus Cempaka.
“Aku nggak tahu ukuran dia.”
“Cincin?” usul Jarot asal-asalan.
“Hush! Emangnya mau lamaran? Lagian bukan cewek yang ngasih cincin duluan!” sergah Cempaka, “Jam tangan?”
“Boleh juga,” Mia setuju.
“Baiklah kalau gitu aku sama Jarot cariin dulu, pokoknya sebelum jam tujuh kami pasti sudah kembali!” kemudian Cempaka berbalik sambil menggandeng tangan Jarot.
“Tunggu,” sahut Mia. Cempaka dan Jarot berbalik, “Makasih banyak, ya!”
“Nggak masalah!” seru Cempaka dan Jarot serempak sambil mengedipkan salah satu matanya. Mereka tidak Cuma kembar tap juga mirip!
“Kalau begitu saya melanjutkan pekerjaan saya dulu, Nona,” susul Mina kemudian keluar dari ruangan.
Mia berjalan mendekati dinding kaca di seberang. Dari sana ia dapat melihat pemandangan kota Rightstone yang diselimuti salju. sedikit demi sedikit lampu-lampu mulai menyala, pertanda hari telah beranjak petang. Mia menatap pemandangan sebelah barat, dicarinya sebuah restoran beratap kubah emas yang sedang tertutup salju. Di sanalah Mia dan Viktor akan mengadakan acara makan malam berdua. Sebanarnya tempat itu hanya restoran keluarga yang biasa mereka datangi bersama orang tua mereka sejak kecil tapi beberapa tahun terakhir memang mereka tidak pernah lagi ke sana karena Papa dan Mama jarang pulang.
Mia kembali ke sofa di tengah ruangan. Ia meraih tas sekolahnya yang tadi degetakkannya begitu saja di atas meja. Ia mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari telepon genggamnya. Begitu ditemukan, ternyata sudah ada beberapa SMS yang masuk dan lima panggilan tak terjawab dari Viktor. Mia menyesal tadi telah mengatur Hpnya ke mode diam. Dibukanya SMS satu persatu.
SMS pertama dari Viktor berbunyi : Kamu lagi di mana? Kenapa belum pulang?
SMS kedua dari Viktor juga dan berbunyi sama.
SMS ketiga dari Viktor lagi berisi : Jangan lupa jam ½ 8, resto Family Fun.
SMS terakhir dari Arga berbunyi : Mia, semalam aku mendapat mimpi yang aku rasa jawaban dari cuaca aneh di Rightstone. Tadi pagi aku kesiangan, jadi bolos dan nggak sempet cerita sama kamu. Temui aku di bawah jam menara stasiun Masrandu jam delapan malam.
Sekarang Mia bingung. Jika ia menemui Arga maka ia hanya mempunyai waktu setengah jam bersama Viktor. Walaupun Mia yakin Arga membawa cerita yang penting, ia memutuskan untuk menunda pertemuannya karena ia tidak punya cukup waktu. Mia segera menelepon Arga tapi nomornya tidak aktif. Celaka! Bagaimana cara memberitahu Arga kalau ia tidak bisa datang? Selagi Mia berpikir keras tentang hal itu, Cempaka dan Jarot sudah datang dengan membawa beberapa paper bag dan kantung plastik yang memenuhi kedua lengan mereka masing-masing.
“Apa yang kalian beli?” tanya Mia heran melihat banyaknya belanjaan yang yang dibeli dua orang anak kembar itu.
“Ah, maaf. Tadi kami lihat benda-benda yang lucu. Hehehe..” Cempaka nyengir.
“Aku diperalat Cempaka untuk membawakan barang belanjaannya,” keluh Jarot.
“Shh! Kamu kan sudah aku belikan kemeja! Ingat, siapa disini yang sudah berpenghasilan sendiri, hah?” tandas Cempaka merasa menang. Memang, toko asesoris yang dikelolanya seorang diri itu sudah cukup sukses. Salah Jarot sendiri karena dulu diajak mengelolanya bersama tapi ia tidak mau! Sekarang, Cempaka tidak perlu meminta-minta uang pada kedua orang tuanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Sedangkan Jarot, selalu disindir Papanya karena tidak bisa mengikuti kesuksesan saudaranya di usia muda.
“Iya deh iya!” Jarot menyerah. Dionggokkannya kantung-kantung belanjaan Cempaka di atas lantai begitu saja begitu ia mengambil duduk di sofa seberang Mia. Sekarang ia sibuk mencari-cari di kantung mana kemeja baru yang dibelikan oleh Cempaka tadi.
Dari dalam tas kecilnya, Cempaka mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terbungkus kain beludru berwarna biru tua. Diserahkannya pada Mia sambil berkata, “ Bukalah! Menurutmu jam itu bagus apa nggak? Kalau nggak, kamu bisa menggantinya dengan kemeja yang tadi aku belikan untuk Jarot.”
“Eh, nggak! Aku suka kemeja ini!” tolak Jarot tidak setuju sambil mengelus-elus kemeja barunya.
Mia langsung membuka kotak Jam tersebut. Sebuah jam analog berbentuk kotak dengan tali kulit coklat tua. Ia menyukai jam itu, “Makasih banyak, ya. Viktor pasti suka.”
“Kalau begutu ayo kita bergegas. Udah jam tujuh lebih. Jam berapa kalian janjian?”
“Setengah delapan.”
“Semoga aja nggak macet!” Cempaka meraup tangan Mia dan Jarot, dibawanya mereka melesat menuju mobil sedannya yang sudah menunggu di depan pintu utama mall, “Kencangkan sabuk pengaman kalian. Kita meluncuuur!” teriak Cempaka yang langsung tancap gas. Terlambat sedikit memasang seatbeltnya, pasti kepala Mia sudah terantuk kaca depan mobil.
“Aku paling suka saat-saat seperti ini!” teriak Jarot menngimbangi deru mobil Cempaka, “Tambah lagi kecepatannya, Cem!”
“Hei, pelan-pelan aja! aku nggak mau makan malam dengan kaki buntung!” teriak Mia sambil ngeri merasakan mobil yang ditumpanginya menyusup dan berkelok kesana kemari di antara mobil-mobil yang lebih besar.
Tidak sampai sepuluh menit Mia, Cempaka dan Jarot tiba di depan pintu masuk restoran Family Fun yang bergaya timur tengah.
Cempaka agak kecewa sedikit, “Seharusnya tadi aku memilih gaun yang dihiasi emas-emasan biar cocok sama restoran ini,” keluhnya lemah.
“Nggak. Kalau kamu mendandaniku seperti itu, nanti disangka aku pelayan restoran ini!” hibur Mia yang ada benarnya juga karena para pelayan disana mengenakan seragam berwarna merah menyala dengan bordiran benang-benang emas.
“Makasih banget buat semuanya, ya!” ucap Mia sebelum menutup pintu mobil.
“Nggak masalah!” sahut Cempaka dan Jarot berbarengan.

No comments:

Post a Comment

please leave polite comments