Tuesday, March 16, 2010

The Guardian part 1

The Guardians

Bulan-bulan panas sudah berlalu sejak dua minggu lalu. Hujan turun hampir tiap hari tetapi kehangatan selalu terasa di sebuah kamar berukuran sedang dalam Puri Marshall. Kamar itu sudah delapan tahun dihuni oleh seorang gadis yang diadopsi oleh pasangan suami istri Marshall. Gadis spesial yang menyebabkan kamar pribadinya selalu hangat. Ia biasa dipanggil Mia.
Baru setelah alarm HPnya berdering untuk ketiga kalinya, ia terbangun, meregangkan badan lalu menguap lebar. Diraihnya HP yang masih berdering itu, dimatikannya alarm lalu dilihatnya jam menunjukkan pukul setengah enam pagi. HP ditaruh lagi di meja kecil samping ranjangnya. Mia berdiri lalu segera masuk kamar mandi. Sambil menunggu bathup penuh, Mia melepas pakaiannya satu-persatu. Kemudian ia menyingkap sedikit tirai jendela kamar mandinya, dari atas kamarnya ia mengintip pemandangan di luar. Astaga! Salju! Kristal putih itu perlahan tapi pasti mulai bertaburan dari angkasa. Tunggu, sejak kapan salju bisa turun di negara tropis? Pantas saja pohon-pohon di seluruh kota Rightstone meranggas dan bunga-bunga layu, ternyata mereka sedang menyiapkan diri untuk menghadapi salju. Tapi ini nggak normal. Apapun itu, Mia harus menyelesaikan mandinya terlebih dahulu. Mia segera menutup kembali tirai lalu mengarahkan tangannya ke bathup, sedikit berkonsentrasi dan Voila! Air bath up yang tadinya dingin sedingin udara di luar menjadi hangat luar biasa.
Selepas mandi, Mia mengenakan seragam sekolahnya, SMA Upon Rightstone, sekolah paling tersohor di seantero kota Rightstone. Seragam SMA Upon Rightstone menjadi favorit anak-anak remaja karena desainnya yang mewah dan elegan. Mia terlihat cantik mengenakan seragamnya yang terdiri dari kemeja putih lengan panjang, jas merah hati panjang dengan kancing yang berdetail bunga mawar warna emas, dasi yang senada dengan warna jasnya, serta rok lipit merah hati lima belas sentimeter di atas lutut. Mia memadukan seragamnya dengan sepatu fantovel warna hitam, lalu kaos kaki hitam yang memanjang sampai sepuluh sentimeter di atas lutut, terakhir, raincoat tebal berwarna merah hati dengan kancing berdetail kristal salju berwarna perak, khusus untuk musim penghujan, resmi dari SMA Upon Rightstone. Itulah gaya berseragam semua siswi SMA Upon Rightstone. Sebelum meninggalkan kamarnya, Mia meredakan hawa hangat di kamarnya dengan mengarahkan tangannya ke titik-titik di sudut ruang kamarnya, hawa hangat yang sejak tadi malam ia pancarkan ke seluruh kamarnya itu segera merasuk ke dalam tubuhnya melalui telapak tangannya.
“Ah, Sayang, kemarilah!” sapa mama pagi itu diliputi kecemasan yang sama dengan yang Mia khawatirkan.
Mia segera bergabung di depan meja makan. Ia yakin papa dan Viktor juga mencemaskan hal yang sama namun keduanya menunjukkan pembawaan yang tenang seperti biasanya.
“Sayang, kamu sudah tahu di luar turun salju?”
“Iya, Ma. Tadi Mia lihat dari jendela.”
“Kira-kira kamu tahu nggak kenapa bisa cuaca kota kita seperti ini?”
“Nggak, Ma. Emang kenapa, Ma? Rightstone kok bisa jadi bersalju begini?”
“Ah, Sayang. Ceritanya panjang. Mama sekarang cuma bisa berpesan pada kalian berdua untuk lebih waspada terhadap bahaya yang mungkin tengah mengancam. Mama yakin ini perbuatan Isauman merah.”
“Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan,” sela Papa.
“Isauman merah? Kenapa mereka berani bikin ulah lagi, Ma?” Viktor kesal.
“Tunggu. Saya nggak ngerti. Siapa itu Isauman merah?” potong Mia.
“Isauman itu orang-orang seperti kita, Sayang. Orang yang mempunyai ability. Isauman merah adalah sebutan untuk mereka yang menggunakan kekuatannya untuk kejahatan,” terang Mama.
“Sejak kehancuran peradaban Isauman di bumi, mereka tidak pernah muncul kembali. Mereka masih ada tapi tidak berani berulah. Kalau memang benar ini perbuatan mereka, pasti ada hal lain yang mempelopori mereka untuk berani membuat kekacauan di bumi kembali,” tandas Papa.
“Apakah mereka berbahaya, Pa?” tanya Mia cemas.
“Tidak. Tidak juga, tergantung kekuatan yang mereka miliki. Yang membahayakan adalah tentang pengetahuan manusia akan keberadaan manusia seperti kita ini. Sejak lama kita menutup rapat-rapat akan jati diri Isauman, jangan sampai para Isauman Merah membuat semuanya berantakan.”
Tiba-tiba suasana hening. Semuanya telah kehabisan kata-kata. Masing-masing sibuk dengan lamunan mereka sendiri sampai nasi goreng pagi itu mulai dingin.
“Mia, bagaimana perkembangan pengendalian emosimu?” tanya Mama memecah keheningan yang terjadi beberapa menit lalu.
“Mmm.. saya masih nggak tahu. Saya masih berusaha nggak terlalu dekat dengan banyak orang supaya emosi saya tetap stabil.”
“Kamu nggak banyak menggunakan kekuatanmu itu kan?” selidik Mama, diam-diam Papa ikut menyimak dengan antusias.
“Cuma saat saya merasa udara terlalu dingin dan air di kamar mandi kurang hangat, Ma.”
Baru setelah sekitar dua puluh detik Mama baru menanggapi, “Hmm. Baiklah. Sudah jam setengah tujuh, sebaiknya kalian mulai sarapan kalau tidak mau terlambat ke sekolah!”
Begitu membuka pintu rumah, salju sudah hampir menutupi seluruh pelataran. Dengan berhati-hati Mia dan Viktor melangkah karena jalanan licin akibat salju. Perjalanan menuju sekolah cukup mereka tempuh dengan jalan kaki karena letaknya yang tak terlalu jauh. Walaupun berangkat sekolah bersama-sama, Mia dan Viktor nggak pernah berjalan berdampingan, biasanya Mia akan berjalan sepuluh meter di belakang Viktor. Nggak ada yang keberatan. Baru aja sampai depan pintu gerbang sekolah, Viktor langsung disambut oleh Lara, cewek yang disebut-sebut sebagai pacarnya Viktor. Mia menghentikan langkahnya, mengamati tingkah laku Lara yang bergelayut manja di lengan Viktor, Viktor nggak menyambut, juga nggak menolak. Mereka berjalan bersama masuk ke area sekolah. Pemandangan serupa yang setiap hari disaksikannya itu selalu membuat hati Mia panas. Mia yang udah delapan tahun hidup sebagai adik angkat Viktor nggak pernah berlaku manja ataupun dimanjakan seperti itu. Mia selalu sungkan untuk mendekati Viktor yang sedingin dan sekeras gunung es.
Pernah sekali waktu keluarga Marshall bertamasya ke gunung Tangkuban Perahu, tepatnya enam tahun lalu. Selain menikmati pemandangan kawah gunung, Mia dan Viktor juga mengunjungi area outbound di daerah kebun teh, sedangkan kedua orang tua mereka memilih untuk berendam di kolam air panas di rumah penginapan. Dari mulai jaring tambang yang tinggi, flying fox, meniti seutas tali sampai bersepeda menyusuri kebun teh yang terjal dilakoni Mia dan Viktor. Nggak ada yang meragukan lagi akan rasa haus mereka terhadap tantangan. Mia dan Vitor bersepeda sendir-sendiri menyusuri jalanan sempit dan berbatu sepanjang kebun the. Karena menghindari seekor kura-kura yang melintas, Mia jatuh terjerembab dari atas sepedanya. Badannya luka-luka tergores dan terantuk bebatuan, Mia jatuh pingsan. Ketika sadar, Mia sudah berada di kamar penginapan dengan beberapa balutan di tubuh dan kepalanya. Mama bilang, Viktor yang membawanya pulang ke penginapan dengan menerbangkannya, padahal waktu itu Viktor belum cukup dewasa untuk membawa beban berat, alhasil Viktor juga jatuh sakit karena tenaganya terkuras habis. Sejak itu Mia yakin bahwa Viktor sebenarnya baik dan penuh perhatian, tapi mungkin karena sesuatu hal, Viktor lebih sering acuh tak acuh dan bersikap dingin pada semua orang.
Viktor masih beruntung, gejolak emosi tidak mempengaruhi kekuatannya. Kekuatan terbang memang lebih mudah dikendalikan. Viktor tidak harus menutup diri dari pergaulan. Ia mempunyai banyak teman di sekolah. Viktor juga ikut klub basket di sekolah, lain dengan Mia yang lebih memilih mengucilkan diri. Ia terlalu takut bergaul dengan orang lain selain di lingkungan puri. Meskipun sudah delapan tahun belajar teknik pengendalian emosi, Mia masih merasa sungkan untuk bersosialisasi. Bahagia sedikit bisa membuat aura panasnya keluar, apalagi marah, cahaya merahnya akan langsung memancar kuat.
Di kelas pun Mia duduk seorang diri di bangku paling belakang. Ia hanya mengeluarkan suara jika ditanya dan selalu diam kalau nggak ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada orang lain. Sejak kecil selalu seperti itu.
Teman-teman sekelas Mia di SMA Upon Rightstone maklum dengan tingkah laku Mia karena memang sejak dulu keluarga Marshall berbeda. Keluarga yang tinggal di puri tua yang berdiri kokoh sejak ratusan tahun lalu itu memang selalu menutup diri sejak dulu. Hanya keluar puri seperlunya. Konon mereka adalah keturunan bangsawan yang dulu memimpin kerajaan Rosseda puluhan abad lalu sebelum wilayah itu akhirnya berubah nama menjadi kota Rightstone. Cerita tersebut turun dari nenek moyang penduduk asli kota Rightstone. Satu hal yang tidak pernah berubah, mereka selalu kaya dan khas.
Mia masih berkutat dengan novelnya ketika Pak Guru tiba di kelas 10-3 diikuti seorang anak asing yang baru dilihat teman-teman di sekolahnya. Para siswi langsung heboh begitu tahu bahwa teman baru yang yang sedang berdiri di depan kelas tersebut sangat tampan. Mia sedikit terganggu dengan kehebohan itu. ia mendongak untuk mencari tahu apa yang terjadi. Matanya terjatuh pada sosok cowok berkulit pucat di ujung kelas tersebut. Yang mengagetkannya justru cowok tersebut juga sedang memandangnya. Tatapannya tajam tapi kelihatan bersahabat. Detik berikutnya cowok itu tersenyum ke arah Mia. Terkejut, Mia kembali menunduk membaca novel yang baru dibelinya kemarin.
“Nama saya Arga. Saya baru pindah dari kota Malumpat. Senang berkenalan dengan teman-teman semua. Mohon bantuannya!”
“Arga, Arga! Udah punya pacar belum?” sahut seorang siswi yang duduk di deretan depan kelas. Cewek yang mengikat rambut pirang panjangnya menjadi dua bagian itu sangat bersemangat kedatangan murid cowok baru, sampai-sampai ia merasa harus berdiri selagi menyampaikan pertanyaannya. Sepertinya semua siswi satu kelaspun mendukung tindakannya. Mereka juga ingin tahu status Arga.
“Hei, pertanyaan macam apa itu, Noni! Sudah, sudah,” timpal Pak guru, “Nah Arga, silahkan duduk di bangku kosong belakang itu.”
“Terimakasih, Pak.”
Waktu Pak guru menyebut bangku kosong belakang, Mia langsung merasa was-was. Satu-satunya bangku yang tersisa di kelas itu adalah bangku di sebelahnya. Mia bertekad akan diam aja kalau nanti teman barunya itu bertanya-tanya. Ia nggak mau ambil resiko.
“Hai, nama kamu siapa?” tanya Arga pada teman sebangkunya begitu ia menjatuhkan pantatnya pada kursi barunya.
Seakan lupa dengan tekadnya barusan, Mia menjawab pertanyaan teman barunya itu, “Mia,” jawabnya tanpa menoleh. Sebelum Arga berhasil melanjutkan pertanyaannya, Mia sudah sibuk mengeluarkan buku dan alat tulisnya.
“Bego, bego. Kan gue udah niat mau diam aja!” umpat Mia dalam hati menyesali perbuatannya.
Setelah Mia siap dengan bukunya, Arga kembali mengajaknya berbicara, “Aku agak gugup sama hari pertamaku, hehe. Mohon bantuannya, ya?”
Mia mengangguk.
Selesai pelajaran jam keempat para siswa keluar kelas untuk makan di kantin sekolah.
“Arga, ke kantin sama kita-kita, yuk?” Ajak Noni, cewek yang tadi menanyakan status Arga.
“Iya, ntar aku nyusul kalian. Kalian duluan aja, ya?” jawab Arga ramah diakhiri dengan senyum manisnya.
“Oke, beneran ya! Oya, nama gue Noni,” Noni mengulurkan tangannya.
Arga menyambut uluran tangan Noni, “Oke, Noni.”
“gue Risma!” susul cewek di belakang Noni.
“Gue Helda,” cewek berkacamata di samping Noni pun nggak mau ketinggalan untuk berkenalan dengan teman barunya yang tampan itu.
“Bian, B-I-A-N.”
Mia menahan tawa waktu mendengar Bian mengeja namanya. Menurutnya aneh, kenapa harus dieja segala? Untung nggak ada yang tahu kalau Mia tertawa kecil. Mia masih pura-pura sibuk dengan novelnya.
“Dadah, Arga!”
Begitu kelas sudah kosong, Arga mengajak Mia ke kantin bareng.
“Lurus aja dari kelas trus belok kiri. Kantinnya disana. Gue nggak kesana.”
“Lho, kenapa nggak? Kamu nggak lapar?”
“Gue bawa bekal dari rumah,” jawab Mia sambil masih sibuk dengan novelnya.
“Aku nggak begitu lapar sih. Mungkin ntar aku bisa minta dikit bekalmu. Nggak pa-pa, kan?” tanya Arga sambil kembali duduk di bangkunya, “Um, baca apaan sih? Kayaknya seru banget?” tanya Arga sambil mencoba melihat cover novel yang sedang dibaca Mia, “Oh, The Dark Earth. Ceritanya bagus tuh, aku pernah baca tapi… okey, aku nggak mau nyeritain endingnya, ntar nggak seru lagi kalau kamu aku kasih tahu.”
Mia menghentikan aktivitas membacanya lalu mengeluarkan kotak makanannya. Dua potong sandwich yang diracik bibi Arda ia bagi dengan teman barunya itu.
“Hmm.. enak banget. Siapa yang bikin nih?”
“Juru masak di rumah.”
“Waw, kamu punya juru masak di rumah? Kamu pasti kaya banget ya, hahaha.”
Mia nggak menanggapi selorohan Arga.
“Kok diem? Jangan-jangan kamu risih ya ngobrol sama aku?”
“Nggak!” sahut Mia buru-buru. “Bukan begitu. Maaf, gue.. gue cuma nggak biasa ngobrol sama orang yang baru gue kenal.”
“Kalau gitu mulai sekarang kamu harus membiasakan diri ya. Soalnya aku agak cerewet orangnya. Hehehe.”
“Mm, iya,” jawab Mia kikuk.
“Jadi, kamu penduduk asli Rightstone, bukan?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Gue dari kota lain.”
“Kota apa?”
“Mm. Gue udah lupa,” jawab Mia karena ia memang sudah lupa, “Udah lama gue tinggal disini.”
“Nggak pa-pa. Ohya rumah kamu dimana?”
Mia nggak segera menjawab. Kalau ia menyebutnya tempat tinggalnya pasti Arga bakal tanya lebih banyak lagi karena… siapa sih yang nggak kenal dan pengen tahu lebih banyak tentang keluarga dan puri Marshall? Tapi akhirnya ia jujur juga karena ia nggak punya alasan untuk berbohong.
“Oooh, puri Marshall yang terkenal itu ya? Jadi kamu ini keturunan bangsawan kaya itu, ya? Wah beruntung banget aku bisa punya temen ningrat. Hehehe.”
“Bukan, bukan,” ralat Mia agak kepayahan, “Gue cuma anak angkat kok. Gue nggak punya orang tua kandung.”
“wah..Sama. Aku juga udah nggak punya orang tua kandung,” seru Arga mendapati mereka senasib, “Sebulan yang lalu mereka tewas kecelakaan. Minggu lalu Oomku ngajak aku tinggal bareng keluarganya disini.”
“Oh, gue turut berduka atas yang menimpa kedua orang tua elo.”
“Makasih. Eh, ntar pulangnya bareng yuk? Rumah Oomku searah sama purimu.”
“Hah?” Mia agak terkejut. Ia nggak pengen deket-deket dengan orang lain termasuk cowok ini tapi Arga ini malah bersikap sangat akrab padanya.
“Kenapa?” tanya Arga heran, “Ah, jangan-jangan kamu pakai mobil, ya? Maaf, maaf, aku lupa kalau kamu orang kaya. Aku jalan kaki sih soalnya. Hehehe.”
“Bukan. Gue cuma.. cuma..” Mia nggak meneruskan kalimatnya, “Gue juga jalan kaki kok. Ya, mari pulang.. bareng,” jawab Mia kikuk.
“Sip!”

No comments:

Post a Comment

please leave polite comments