Sudah hampir satu minggu Rightstone diselimuti salju dan selama itu pula para ilmuwan, astronom dan para profesor telah bekerja keras mencari tahu sebab segala sesuatunya walau begitu belum ada jawaban yang diperoleh. Walaupun tidak ada pemberitaannya di luar negeri namun dari mulut ke mulut, tersiarlah kabar tersebut kepada para Isauman yang tinggal di luar negeri. Terutama di Ganmia, tempat ratusan Isauman yang tersisa di dunia menetap, mengadakan pertemuan dan mendiskusikan segala sesuatu.
Ganmia merupakan sebuah kota tua di lembah pegunungan Vos Gas. Letaknya yang lumayan terpencil memungkinkan kerahasiaan keberadaan Isauman yang tinggal disana. Tidak ada kereta yang melewati kota tersebut. Jika ingin berkunjung ke kota tersebut, hanya ada sebuah bus yang hanya seminggu sekali datang dan langsung pergi. Kalau ingin cepat sampai, orang harus menggunakan kendaraan pribadi menuju Ganmia yang bertebing terjal dengan jalannya yang meliuk dan menanjak. Sebagian besar penduduk Ganmia bercocok tanam di ladang-ladang pribadi yang tidak terlalu luas. Lebih daripada itu pekerjaan tersebut hanya merupakan bagian dari penyamaran karena sebenarnya dapat dengan mudah para Isauman memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan memanfaatkan kekuatan mereka.
Malam itu tanggal lima Oktober tepat―satu minggu sejak turunnya salju di Rightstone―para Isauman Ganmia mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh seorang wanita tua berambut perak yang digelung rapi di bagian belakang kepalanya. Sebuah kacamata bundar berantai emas melengkapi penampilannya malam itu di tengah-tengah gedung pertemuan yang terletak di ruang bawah tanah sebuah rumah yang sangat luas. Sekitar seratus kepala keluarga hadir dalam acara tersebut. Suasana hening dan suram sepadan dengan keadaan ruang bawah tanah yang remang-remang―meskipun hangat―dan berdekorasi gelap pada dinding dan atapnya. Penerangan yang ada disana hanya lilin-lilin raksasa yang terletak di ke empat sudut ruangan dan di depan meja wanita berambut perak tadi. Ruangan tersebut memang merangkap sebagai bar rahasia para Isauman, sering digunakan untuk pertemuan dan bertukar pikiran karena aman dan selalu buka sepanjang hari. Semua orang yang hadir malam itu berusia di atas empat puluh tahun karena sudah lama keturunan yang mereka lahirkan tidak mewarisi kekuatan orang tua Isaumannya.
Dalam bahasa Talluo kuno―bahasa yang sejak dulu dipergunakan oleh Isauman―wanita berambut perak yang sudah berusia seratus tujuh puluh tahun tersebut menyampaikan pidatonya yang kira-kira dalam bahasa Indonesia begini bunyinya:
“Hadirin Isauman sekalian. Pada kesempatan malam ini aku akan menyampaikan sebuah berita yang menyangkut keadaan kota sahabat kita, Rightstone. Seperti yang sudah kita semua ketahui dari kabar yang beredar dan juga ramalan Mr. Nastumalus Andalusah beberapa waktu lalu serta penglihatan Sir Timothy de Urrilac, kota tersebut kini tengah diselimuti salju. Keadaan tersebut dapat menyulitkan keberadaan Isauman di muka bumi. Jika tidak segera ditangani, lama-kelamaan manusia akan mengetahui keberadaan kita. Kita akan berbuat sesuatu untuk menghentikan salju itu, itu pasti. Keberadaan salju merupakan kuasa Dewi Cuaca―termasuk jika turunnya pada saat dan di tempat yang tidak lazim―. Turunnya salju selain merupakan bagian proses alam juga merupakan sebuah pertanda. Pertanda telah lahirnya Isauman baru yang hebat―sudah lama tidak muncul generasi penerus jenis kita, tadinya aku pikir peradaban kita benar-benar akan punah,” tutur wanita berambut perak tersebut dengan tenang. Langsung saja para hadirin yang tadinya mengira salju adalah pertanda buruk berubah menjadi bahagia dan senang. Kemudian wanita tua tadi melanjutkan pidatonya, “Namun sebelum kalian memutuskan akan mengangkat gelas untuk merayakan hal ini, kalian harus tahu bahwa kita tidak tahu jenis Isauman apa dengan ability macam apa yang muncul ini. Jadi, aku tetap menyuruh kalian berhati-hati. Sementara itu, aku mengundang Tuan Hamka Pradibia, Tuan August Mcfox, dan Nyonya Gabrielle Salvado untuk menyusulku ke ruang kerjaku setelah ini. Demikian kabar yang aku sampaikan. Silahkan melanjutkan kegiatan kalian.”
Sebagian hadirin meninggalkan bar bawah tanah tersebut dengan melewati jalan bawah tanah yang menghubungkan setiap bangunan milik para Isauman. Sebagian lainnya tetap duduk-duduk di atas sofa empuk maupun di kursi tinggi di depan peracik minum. Walaupun wanita berambut perak tadi telah memperingatkan bahwa bisa saja Isauman yang lahir berasal dari kelompok Merah namun mereka tetap bersuka ria merayakan kelahiran generasi baru Isauman yang telah lama tidak terdengar kabarnya sejak empat puluh terakhir. Isauman-isauman muda seperti Mia, Viktor, Cempaka, dan Jarot sebenarnya belum sah disebut Isauman karena belum mempunyai tanda Isauman berupa tato berbentuk kristal salju seperti yang pernah diperlihatkan Arga pada Mia. Tato seperti itu bisa saja berada di bagian manapun dari tubuh seorang Isauman dan bisa saja berbentuk sangat besar atau terlalu kecil, tapi semua Isauman sejati pasti memilikinya jika memang sudah saatnya.
Tato seperti itu hanya terdapat pada Isauman Putih sedangkan lawan mereka, Isauman Merah tidak mempunyai tato apapun sehingga sulit membedakannya dengan manusia biasa. Para Isauman putih biasanya akan takut saat menemukan bayi mereka tidak mempunyai tato kristal salju atau yang biasa mereka sebut Quineer. Padahal Quineer tidak selalu muncul sejak lahir. Kebanyakan Quineer mulai kelihatan ketika anak tersebut beranjak dewasa, seiring dengan itu, kekuatan mereka akan berkembang pesat. Terkadang mempunyai keturunan yang tidak mewarisi kekuatan Isauman tidak menjadi persoalan bagi orang tua Isauman jika dibandingkan kalau mereka melahirkan Isauman Merah. Jika sampai seorang Isauman tidak mendapatkan Quineernya sampai berumur tujuh belas tahun, maka dapat dipastikan bahwa ia terlahir dengan takdirnya sebagai Isauman Merah. Dan pada saat ulang tahun ke tujuh belas itulah salju akan turun sebagai pertanda lahirnya Isauman baru.
“Apa yang dikatakan Zaronda benar. Kita tidak seharusnya terlalu cepat merayakan hal ini karena bisa jadi Isauman baru itu termasuk golongan Merah,” seorang pria berwajah melayu menasehati kawan-kawannya yang tengah menenggak bir di sudut sofa.
“Hei, Gus. Aku punya seorang teman di Belgia,” sahut salah seorang yang sudah setengah mabuk, “Mereka mempunyai anak Isauman yang sampai berumur tujuh belas tahun tidak juga mendapatkan Quineernya tapi kehidupan mereka tetap lancar saja. memang anak itu terlahir sebagai Isauman merah tapi ia tak lantas menjadi orang jahat. Lagipula mana boleh jaman sekarang ini membunuh orang sembarangan? Dunia sudah jauh berubah, manusia biasa lebih mempunyai kuasa daripada kita yang Isauman ini,” papar pria yang wajahnya hampir dipenuhi rambut karena saking lebatnya cambang dan kumis pada wajahnya itu.
“Ya, betul itu. Tidak akan terjadi peperangan lagi seperti jaman nenek moyang kita dulu, Gus. Tenang saja. Belum tentu setiap Isauman Merah berwatak jahat. Lihat saja Vinh Lio, dia Isauman Merah dan dulu jahat tapi sekarang dia sudah bertobat dan menjadi bagian dari kita. Yah―walaupun aku tahu kau tidak terlalu suka pria Vietnam itu,” tambah yang lain sambil sempoyongan menghampiri meja bartender untuk memesan minuman lagi karena botolnya telah kosong.
“Aku memang tidak pernah menyukainya dan itu bukan karena dia Isauman Merah,” tegas pria yang dipanggil Gus itu, kemudian sambil bangkit dari duduknya dia berkata, “Baiklah minumlah sepuas kalian sementara aku akan melatih kekuatan ‘tabir’ku. Dan semoga kalian tidak lupa bahwa MR. Andalusah juga meramalkan sesuatu yang buruk tentang peradaban Isauman.”
Namun tidak ada yang mendengarkan perkataan Gus karena semua kawannya sudah mulai mabuk dan masih saja minum.
(***)
Sia-sia saja Arga mencari informasi yang ia butuhkan melalui perpustakaan dan internet. Tidak ada catatan mengenai Rightstone yang aneh. Semua ditulis dengan wajar dan sangat sedkit informasi yang dipaparkan. Otaknya sekarang buntu memikirkan bagaimana lagi caranya supaya ia mendapatkan penjelasan yang ia inginkan. Akhirnya ia memutuskan untuk berkeliling Rightstone dengan meminjam mobil pick-up milik pamannya yang mempunyai toko mebel kecil-kecilan. Berbekal teropong dan peta wilayah Rightstone, Arga menyusuri jalanan kota tersebut. Tidak banyak bangunan tua yang tersisa kecuali puri Marshall yang terletak di atas bukit kecil dengan perumahan padat penduduk di bawahnya, lalu puri lain yang tidak begitu jauh dari puri Marshall namun berbeda dengan puri Marshall, keadaan puri itu sudah sangat rusak dan runtuh termakan usia, serta beberapa rumah batu yang berdesakan dengan rumah modern lainnya―sebagian di antara rumah batu tersebut sudah tak berpenghuni. Kali ini Rightstone tidak bernuansa merah seperti sebelumnya karena semak-semak mawar telah meranggas, hanya batang-batangnya yang tebal dan kokoh yang tersisa dan siap bersemarak lagi―jika musim salju berakhir.
Arga bernisiatif untuk menanyai penduduk yang tinggal di rumah-rumah batu kuno yang dijumpainya. Pikirnya, rumah-rumah batu tersebut dulunya pasti merupakan tempat tinggal rakyat jelata. Jadi kemungkinan besar mereka akan bersikap ramah dan terbuka terhadap orang asing idbanding golongan bangsawan yang tertutup. Maka Arga menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah batu yang masih terawat dan bercat baru. Ia mengetuk pintu beberapa kali sampai akhirnya terdengar sahutan dari dalam rumah.
“Siapa?” terdengar suara seorang wanita di balik pintu.
“Maaf, saya ada perlu dengan Ibu sebentar,” sahut Arga.
“Kamu siapa?”
“Nama saya Arga. Anda pasti tidak mengenal saya―tapi saya…”
“Saya tidak berbicara dengan orang yang tidak saya kenal,” sahut wanita tersebut dengan lebih nyaring diiringi setelah itu ditutupnya tirai jendela di samping pintu.
“Hhh.. susah juga,” desah Arga sambil kembali ke dalam mobil, “Nggak ada orang yang yang mau beramah tamah dengan orang asing.”
Sebenarnya Arga pernah sekali bertanya pada pamannya tentang kota Rightstone tapi pamannya sendiri bilang tidak tahu. Ia bukan penduduk asli kota itu. ia baru menetap di Rightstone selama sepuluh tahun setelah menikahi istrinya yang sudah lebih dulu tinggal di Rightstone. Namun sayang, bibi tersebut telah meninggal sehingga Arga tidak sempat bertanya-tanya.
Sejak awal kedatangan Arga di Rightstone, tato di lengannya sering berdenyut bahkan denyutnya makin terasa ketika bertemu dengan Mia. Hal tersebut membuatnya ingin selalu berada di dekat Mia. Ia yakin gadis ini pun mempunyai keanehan yang sama dengan dirinya. Arga sangat kecewa karena Mia tidak mau menceritakan rahasianya padahal Arga sudah sangat terbuka padanya. Ia sekarang memutuskan untuk mencari tahu sendiri ada apa dengan Mia, Rightstone, tato di tangannya dan juga mimpi-mimpinya yang selalu menjadi kenyataan.
Malam itu Arga berusaha keras supaya ia mendapatkan mimpi yang diharapkannya. Ia ingin medapatkan jawaban atas pertanyaannya selama ini. Dan malam itu juga ia mendapatkannya.
(***)
Tuesday, March 16, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment
please leave polite comments