Monday, December 7, 2009

My Labyrint Love part 4 - end

Suatu malam kami bertemu. Entah kenapa malam itu terasa berbeda. Aku merasa amat kangen padanya. aku merasa udah mantep ma dia. Apapun yang terjadi aku nggak mau pisah dari dia lagi. Aku bakal selalu menerimanya apa adanya. aku mau hidup ma dia selamanya. aku cinta mati ma dia. Dia yang paling sempurna di mataku.

Hancur lebur perasaanku waktu aku nemuin satu sms yang entah dari siapa. Yang jelas orang itu memanggilnya ‘sayang’. Tanpa pikir panjang aku marah semarah-marahnya. Aku nangis sesenggukan. Dimana cowok yang waktu itu janji nggak bakal selingkuh lagi? Dimana cowok yang waktu itu nangis sama-sama aku waktu dia menyadari kalo dia udah nyakitin aku? aku udah nggak percaya lagi ma dia. Semua ini bullshit. Dia nggak bisa berubah!

Malam itu aku nggak bisa tidur. Satu sisi aku masih sayang banget sama dia. Sisi lain aku merasa nggak ada artinya buat dia. Aku intropeksi. Rasa sayangku yang menang. Aku sms dia, aku pengen tarik kata putus itu. Tapi dia justru menolak. Dia menginginkan putus.

Aku nggak bisa hidup tanpa dia. Aku nggak mau kehilangan dia. aku nggak mau kayak gini.

Seminggu kemudian aku ditembak sama Laksa, panggil aja gitu. Laksa adalah si gitaris band Oi yang udah aku ceritain diatas tadi. Sifat egoisku muncul. aku pengen dapat pelarian sekaligus ide buat memanasi Arga.

Bukan kembalinya Arga yang aku dapat melainkan keterikatan bersama Laksa. aku nggak bisa lepas dari Laksa. Benar-benar nggak bisa lepas. Aku udah mencoba buat menyayanginya tapi nggak bisa. Sempat aku bohongin diriku sendiri dan semua orang kalo aku udah sayang sama Laksa. Tapi akhirnya aku sadar kembali. Aku nggak akan pernah bisa menyayangi apalagi mencintai cowok itu.

Arga semakin menjauh dariku. Aku semakin terikat erat sama Laksa.

Empat bulan kemudian seseorang menyadarkanku. Membangunkanku. Membangkitkanku. Seorang mantan guru SMA membuka mataku. Membawa pencerahan. Ternyata Arga benci ma aku. Empat bulan aku nggak pernah ketemu dia ternyata dia lagi benci banget ma aku.

Satu alasan yang ia kemukakan : aku terlalu cepat dapat penggantinya.

Jujur aku masih sayang banget ma Arga. Apapun alasan yang ia katakan, aku akuin itu semua salahku. Aku minta maaf atas semua itu. Aku berharap dia mau maafin aku. Tapi aku nggak dapet apa-apa. Justru dia makin anti ma aku. Ia pikir aku menjijikkan.

Ya, aku emang menjijikkan. Aku nggak layak dapat cinta lagi. Aku nggak layak mendapatkan cintanya lagi. Aku nggak bakal bisa mendapatkannya lagi.

Kini aku udah lepas dari Laksa. Aku bisa bebas. Tapi nggak bakal bisa sama seperti dulu lagi.

Nggak ada lagi kisah indah dalam hidupku. Semakin aku mencari, semakin aku terluka. Semakin kukejar, semakin aku terjatuh. Semakin aku mendekat, semakin Arga benci padaku.

Walaupun nggak ada harapan tapi aku masih menunggu sebuah janji. Janji yang pernah Arga ucapin. ia bilang akan selalu mencintaiku sampai mati. Janji yang udah ia lupain. Janji yang bahkan ia ucapkan ke semua wanita di hidupnya. Tapi aku masih percaya janji itu. janji yang mungkin hanya tinggal janji. Bahkan aku nggak layak buat menunggu janji itu. karena ia cuma akan mencintai cewek sempurna dan suci. Sekarang aku udah nggak menarik lagi buat dia. But he will always be in my heart, eternally.

Maaf buat seorang sahabat yang jadi terluka karena aku mencintai Arga.
Maaf buat Arga yang kecewa ma aku.
Maaf buat teman-teman yang udah mendukungku selama ini, maaf aku nggak bisa ngedapetin dia lagi.
Maaf buat orang tuaku, sekarang aku jadi kayak gini.

Thanks buat SMA yang udah mempertemukanku ma dia.
Thanks buat orang-orang yang nggak sependapat ma aku sehingga aku jadi menarik buat dia.
Thanks buat teman-teman yang udah mendukung dan nyemangatin aku.
Thanks buat Allah yang udah nyiptain makhluk semanis dia.
Thanks buat Arga yang udah berkenan mampir ke hidupku.
Thanks buat semua realita yang akhirnya ngajarin aku bahwa hidup ini keras.

-TAMAT-

No comments:

Post a Comment

please leave polite comments