Yang aku tahu Arga nggak pernah punya pacar di SMA kami. Pernah terpikir buat tahu lebih jauh tentangnya. Ups ternyata temen baikku udah duluan suka dia. Bahkan bisa dibilang terobsesi sejak kelas satu. Aw aw aw. Sebelum perasaanku berkembang lebih jauh, lebih baik lupain aja. Dan begitulah, kehidupanku di SMA berakhir dengan bahagia bersama teman-teman sekelas.
Ketika awal-awal masuk kuliah, aku merasa ada yang berbeda dari Arga. Ia jadi lebih sering SMS aku, main ke rumahku dan curhat-curhat ke aku. Awalnya aku ngerasa biasa-biasa aja tapi lama-kelamaan sepertinya Arga ini lagi tanda-tanda mau Pedekate ke aku nih. Alamak bisa mampus aku. Sohibku kan masih suka banget sama Arga! aku nggak boleh punya perasaan lebih ke Arga, pikirku saat itu. Tapi lama-kelamaan tanpa aku sadari, aku nanggepin juga tiap perhatiannya sampai suatu saat Arga nembak aku. Yang ada dipikiranku saat itu cuma kaget dan senang. Dan aku mengiyakannya. aku nggak berpikir bakal complicated jadinya. Mungkin aku juga nggak berpikir gimana perasaan sahabatku…
Awalnya canggung buat jalan sama Arga. Apa ini yang dinamakan pacaran? Padahal sebelumnya aku udah beberapa kali pacaran tapi kenapa baru sekarang jantungku berdetak keras pas dia menggenggam tanganku? Oh, no, apa aku udah mulai jatuh cinta? Perasaan canggung itu dengan cepat digantikan dengan perasaan nyaman.
Lama-lama aku nggak bisa bendung lagi perasaan ini. aku mulai cari tahu apa aja tentang Arga. Aku mulai protes waktu ia mulai nggak perhatian ma aku. aku udah dalam tahap posesif yang terpendam. Diam-diam aku pantau obrolannya dengan mantan-mantannya di Friendster. Walaupun cemburu, aku mecoba buat sabar karena aku yakin cuma aku satu-satunya cewek di hatinya.
Hampir tiga bulan masa pacaran, aku merasa Arga mulai bosan ma aku. Dia mulai susah diajak ketemu, mulai jarang menghubungiku dan hanya mengobrol singkat saat ketemu atau SMSan. Dia lebih sibuk dengan teman-temannya dibanding ketemu aku. Bahkan beberapa kali dia ketahuan bohong. Akhirnya karena merasa dicampakan, aku gugat putus dia. Ditambah kasus aku yang ketahuan sohibku –yang cinta banget sama Arga itu−. Pikirku, daripada pacaran nggak jelas dengan Arga yang makin lama makin cuek itu, mending sampe disini.
Cinta berkata lain. Setelah sekitar dua minggu berpisah, kami bertemu dan berangkat bersama dalam sebuah acara undangan pernikahan salah seorang teman kami. Perasaan canggung seperti waktu pertama kali berkencan kini terjadi lagi. Sepanjang perjalanan aku merasa kembali ke saat pacaran dulu. Dia pegang tanganku untuk pertama kalinya sehabis kita putus lalu ia menyanyikan sebuah lagu yang sangat romantis. Hingga sekarang lagu itu selalu jadi penghiburku saat merindukannya sekaligus menambah goresan penyesalan di hatiku. Sebuah lagu dari Alexa.
Kutakkan pernah tertawa
Kutakkan pernah bahagia
Kutakkan pernah merasakanmu bila kau tak disini
Ooh, ijinkan aku menuntut mengharap kau kembali dan kembali dan kembali lagi.
Peluklah diriku dan jangan kau lepaskanku
dan jangan kau lepaskanku darimu.
Peluklah diriku dan jangan kau lepaskanku
dan jangan kau lepaskanku darimu.
-bersambung-
Monday, December 7, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment
please leave polite comments