Monday, December 7, 2009

My Labyrint Love part 3

Setelah lama terjebak hujan dan berteduh dirumah teman, akhirnya jam setengah sebelas malam kami melanjutkan perjalanan pulang. suasana sekitar rumah sepi banget waktu kami tiba di depan rumahku. Baru aja turun dari mega-pro nya, begitu berbalik, lenganku diraihnya dan ia menciumku!

Dan aku membalasnya.

Malam itu kita memutuskan untuk balikan.

Perjalanan cinta kami berlanjut lebih indah. aku lebih bisa menerima keadaannya yang lebih mementingkan teman-temannya. Toh aku senang ketika dia mengajakku menengok sisi lain dari dirinya sebagai anak punk. aku pun ikut terjun ke dalam dunia punk. Sejak awal tujuanku cuma supaya aku bisa lebih nyambung waktu ngobrol ma dia, dengan begitu aku harap dia bakal lebih betah buat berlama-lama ketemu aku.

Ah sudahlah. Walaupun aku udah berusaha menyelami apa itu punk, aku tetep ga bisa jadi satu-satunya dihatinya. aku akui dia emang pemberontak, nggak cuma ke keluarga atau lingkungan, tapi juga ke aku. Dengan sifatku yang makin lama makin posesif ini aku makin tersiksa karena aku nggak bisa dapetin seluruh hatinya cuma buat aku. Aku merasa nggak tau siapa dia. AKU NGGAK TAU SIAPA PACARKU. Karena dia nggak ngebiarin aku untuk tahu.

Kesalahan terbesarku adalah aku nggak bisa percaya sama Arga. Sejak kejadian aku liat foto mesra dia dengan mantannya (mereka berfoto pas dia masih jadi cowokku), aku jadi susah percaya sama dia dan kadang aku terlalu curiga.

Terjun ke dunia Punk nggak bikin aku makin dekat ma dia. Bahkan malah menjadikannya sebagai jurang pemisah. Dia nggak mau jalan ma aku di acara-acara punk. Dia lebih memilih bersama teman-temannya. Yah, sesuai ma filosofi punk yang ga percaya akan cinta. Setidaknya itu yang dia tunjukin ke aku waktu kita ketemu di acara punk. Kontras dengan ketika kita lagi jalan berdua doank tanpa ada temen-temennya atau anak punk di sekitar kami.
Aku lihat Arga cinta banget sama dunia punknya. Aku pun berusaha ngimbangin. Dengan status seorang cewek emang gampang buat deketin anak-anak punk lain. Sebenarnya bukan ndeketin tapi dideketin. Ini yang aku alami dengan seorang gitaris dari sebuah band beraliran Oi yang masih berdekatan dengan punk. Nantinya cowok ini berperan banyak dalam hidup kami. Jujur aku nggak pernah tertarik dengannya. Aku cuma respect dan menyukai musiknya aja.

Aku makin jauh dan jauh dengan Arga. Kemesraan dan indahnya pacaran nggak aku dapetin lagi darinya. Dia makin cuek dan aku makin merasa dicampakan, kayak dulu lagi. Aku putusin dia.

Entah udah berapa kali kami putus nyambung sejak saat itu. Suatu hari, sehabis balikan, kami berkencan. Di tengah kencan, aku ngedapetin kalo dia dapat sms dari seorang cewek yang memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Nggak cuma satu sms. Lebih. Yah bagus berarti sekarang dia tengah mendua? aku udah mati rasa saat itu. Cuma air mata yang mengalir deras dari sudut-sudut mataku. Sekarang terbukti sudah, bukan sekadar foto mesra tanpa kata melainkan saat ini setumpuk sms mesra.

Dia minta maaf. Berkali-kali minta maaf. Bersedia melakukan apa aja asal aku nggak mutusin dia. Bahkan dia menangis meski nggak sederas air mataku. Dan itu meluluhkan hatiku. Dia janji nggak akan ngulangin kesalahannya lagi. Dan aku percaya. Tapi semakin posesif.

-bersambung-

No comments:

Post a Comment

please leave polite comments