Friday, January 22, 2010

Aku Mencintaimu

-CERITA NYATA INI DATANG DARI KOREA-
(hasil terjemahanku nih :P)
AKU MENCINTAIMU
Aku punya seorang teman sejak kecil, namanya Jin. Selama ini selalu menganggapnya sebagai teman sampai tahun lalu, ketika kami pergi bertamasya yang merupakan salah satu agenda kelompok ekstrakurikuler kami di sekolah. saat itulah aku sadar bahwa aku jatuh cinta padanya. Sebelum tamasya itu berakhir aku memberanikan diri menghampirinya lalu menyatakan perasaanku. Sejak itu, kami menjadi sepasang kekasih tapi kami saling mencintai dengan cara yang berbeda. Aku selalu memberikan perhatianku hanya kepadanya. Lain dengannya, di adikelilingi banyak gadis. Bagiku, dia adalah satu-satunya namun baginya, mungkin aku sama dengan gadis lainnya.
“Jin, malam ini nonton yuk?” tanyaku saat perjalanan pulangsekolah bersamanya.
“Aku nggak bisa.”
“Kenapa? Kamu mau belajar aja di rumah?” aku kecewa dia menolak ajakanku.
“Nggak… aku mau pergi ketemu seorang temen…”
Dia selalu seperti itu. dia menemui gadis lain di depan mataku seperti itu hal yang biasa. Baginya aku hanya teman biasa. Kata “cinta” hanya keluar dari mulutku. Aku nggak pernah mendengar dia bilang “Aku mencintaimu” sebelumnya. Bagi kami, nggak ada perayaan hari jadian sama sekali. Dia nggak bilangapapun sejak hari pertama kami jadian sampai 100 hari berikutnya, 200 hari…
Setiap hari sebelum berpisah denganku, dia memberiku sebuah boneka, setiap hari, tanpa terkecuali. Aku nggak tahu sebabnya…
Lalu suatu hari…
“Um, Jin, aku…”
“Ada apa? Jangan ngomong setengah-setengah. Bilang aja…”

“Aku mencintaimu.”
“….Kamu.. um, bawa boneka ini dan pulanglah.”
Begitulah caranya tidak memperdulikan “tiga kata”ku dan memberiku sebuah boneka. Kemudian dia menghilang.
Boneka-boneka yang aku terima darinya setiap hari, memenuhi kamarku, satu persatu. Ada banyak sekali….
Kemudian datanglah hari ulang tahunku yang ke -15. Ketika aku bangun pada pagi harinya, aku menyusun sebuah pesta bersamanya dan diam di kamar menunggu telepon darinya. Tetapi… makan siang berlalu, makan malam berlalu.. dan dengan segera langit telah gelap..dia belum juga menelponku. Aku sudah lelah memelototi Hpku. Sekitar jam dua dini hari dia tiba-tiba menelponku dan membangunkanku dari tidur. Dia menyuruhku untuk ke luar rumah. Dan aku masih saja senang dan berlari ke arahnya dengan riang.
“Jin…”
“Ini, ambillah…”
Sekali lagi, dia memberiku sebuah boneka.
“Apa ini?”
“Aku nggak memberikannya padamu kemarin, jadi aku memberikannya sekarang. Aku pulang dulu, ya. Sampai jumpa.”
“Tunggu, tunggu! Apa kamu tahu ini hari apa?”
“Hari ini, hmm..”
Aku merasa sangat sedih, aku kira dia akan ingat hari ulang tahunku. Dia berbalik dan berjalan pulang seperti nggak ada yang terjadi. Kemudian aku berteriak..
“Tunggu…”
“Kamu mau ngomong sesuatu?”
“Bilang, bilang padaku kalau kamu mencintaiku!”
“Apa?!”
“Bilang!”
Aku mengeluarkan semua unek-unek yang ada di kepalaku dan memegang tangannya erat-erat. Tapi ia dengan dingin mengatakan kalimat yang sederhana dan meninggalkanku.
“Aku nggak pengen mengatakannya dengan mudah. Kalau kamu udah putus asa ingin mendengarkan kalimat itu, carilah yang lain.”
Itulah kalimatnya saat itu. kemudian dia berlari pulang. kakiku serasa membeku.. dan aku terjatuh di tanah. Dia nggak pengen mengatakannya dengan mudah… Bagaimana bisa dia… Aku bisa merasakannya.. mungkin dia bukan orang yang tepat untukku. Sejak hari itu aku seharian dirumah menangis, hanya menangis. Dia nggak menelponku meskipun sebenarnya aku menunggu teleponnya. Dia masih saja memberiku boneka setiap pagi di depan pintu rumahku. Itulah sebabnya boneka-boneka itu bisa memenuhi kamar tidurku…setiap hari.
Sebulan berlalu, aku kembali ke sekolah. tapi lagi-lagi aku terluka… aku melihatnya di ujung jalan…dengan gadis lain… dia tersenyum, senyum yang nggak pernah ia perluhatkan padaku.. seperti sia menyentuh boneka, benda mati. Aku berbalik pulang ke rumah dan memandangi boneka-boneka pemberiannya selama ini di dalam kamarku dan air mataku pun jatuh… kenapa dia memberiku semua ini? Boneka-boneka itu mungkin saja didapatkannya dari gadis lain… dengan marah aku membuang semua boneka-boneka tadi. Tiba-tiba telepon berdering. Darinya. Dia menyuruhku untuk datang ke sebuah halte bus dekat nggak jauh dari rumahku. Aku mencoba menenangkan diri dan berjalan ke halte. Aku mencoba mengingatkan diriku untuk melupakannya, bahwa.. inilah saatnya. Kemudian dia menghampiriku, membawa sebuah boneka besar.
“Jo, aku pikir kamu marah tapi kamu benar-benar datang?”
Aku nggak bisa mencoba membencinya. Aku bersikap seperti nggask pernah terjadi suatu apapun dan bercanda dengannya. Kemudian dia memberiku boneka yang tadi.
“Jin, aku memerlukannya.”
“Apa? Kenapa?”
Aku merebut boneka itu dari tangannya dan membuangnya ke jalanan.
“aku nggak mau semua ini! Aku nggak memerlukannya lagi!! Aku nggak mau liat orang kayak kamu lagi!” aku mengeluarkan semua isi hatiku yang terpendam. Tapi nggak seperti hari lainnya, matanya mulai mengambang.
“Maafkan aku,” dia meminta maaf padaku dengan suara yang sangat lirih. Kemudia dia berjalan ke tengah jalan untuk mengambil bonekanya tadi…
“Dasar bodoh! Ngapain kamu ambil boneka itu! Buang aja!”
Tapi dia tak mengacuhkanku dan tetap berjalan menghampiri bonekanya, kemudian…
“Teeet, teeeeeeet!” sebuah truk besar melaju dengan kecepatan tinggi membunyikan klaksonnya untuk Jin.
“Jin, pergi! Pergi! Aku berteriak memperingatkannya… tapi dia nggak mendengarkanku, dia membungkuk dan mengambil bonekanya.
“Jin, pergi!!”
“Teeeet!” “Boom!!”
Suara itu sungguh memekakkan telingaku. Begitulah caranya pergi dariku. Begitulah caranya dia pergi tanpa membuka lagi matanya untuk mengucapkan sepatah kata pun padaku.
Sejak saat itu, aku harus melewati hari-hariku dengan perasaan bersalah. Dan setelah dua bulan aku menghabiskan waktukku seperri orang gila… aku mengambil boneka-bonekaku, satu-satunya pemberiannya sejak hari pertama kami jadian. Aku mengingat-ingat hari-hari yang telah kuhabiskan bersamanya dan mulai menghitungnya… saat-saat kami pacaran…
“Satu…dua…tiga…”
“Empat ratus delapan puluh empat… empat ratus delapan puluh lima..” semua berakhir dengan 485 boneka. Aku kemudian mulai menangis lagi, dengan sebuah boneka di pelukanku. Aku memeluknya dengan erat, kemudian tiba-tiba…
“I love you” aku menjatuhkan boneka itu, terkejut.
“I…lo…ve…you??” aku mengambil kembali boneka itu kemudian menekan perutnya.
“I love you.. I love you.”
Nggak mungkin! Aku tekan semua perut boneka-boneka itu.
“I love you.”
“I love you.”
“I love you.”
Semua kata-kata tadi memenuhi ruanganku tanpa henti… kenapa aku nggak pernah menyadarinya…bahwa hatinya selalu bersamaku, melindungiku. Kenapa aku nggak menyadari betapa dia sangat mencintaiku… aku mengambil sebuah boneka di bawah ranjangku lalu menekan perutnya, itu adalah boneka terakhir yang diberikannya padaku, boneka yang dulu aku buang di jalan itu. masih ada bekas darah pada boneka itu. darah Jin. Suara keluar dari dalam boneka tadi, suara yang sangat aku rindukan..
“Jo…kamu tahu nggak hari ini hari apa?” kita udah pacaran selama 486 hari! Kamu tahu arti 486? Aku nggak bisa berkata ‘aku mencintaimu’, um…karena aku terlalu malu…kalau kamu mau memaafkanku dan menerima boneka ini, aku akan bilang bahwa aku mencintaimy…setiap hari..sampai aku mati…Jo…Aku mencintaimu!”